Home > Uncategorized > BERHARAP KEPADA PESANTREN

BERHARAP KEPADA PESANTREN

Oleh Watir Pradhika

Kekerasan atas nama agama tampaknya tak pernah bosan menyapa Indonesia. Bom di Bali (2001/2002), penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah, teror terhadap  Kristen, teror terhadap kaum Syi’ah, dan masih banyak kasus serupa lainnya, tercatat sekitar 122 aksi kekerasan atas nama agama dalam dua tahun terakhir (Republika, 21/12/2010). Tak berhenti begitu saja, beberapa hari lalu, menyusul peristiwa pemboman berupa paket buku di beberapa tempat. Meski belum jelas motif dan pelakunya, namun sejumlah tokoh meyakini adanya motif ideologi keagamaan tertentu yang memicu tindakan itu.

Kenyataan di atas tentu sangat memprihatinkan. Saat bangsa kita berusaha bangkit menjadi bangsa yang diperhitungkan di mata internasional, kondisi dalam negeri masih carut-marut. Hanya berbeda paham dan keyakinan, sesama warga bertikai dan saling membunuh. Dan, negara, yang salah satu fungsinya adalah menjadi payung buat semua warga yang berbeda paham dan keyakinan, ternyata kerap kali dengan mudahnya terkooptasi oleh kelompok-kelompok berpaham keagamaan tertentu yang mengatasnamakan mayoritas.

Pertanyaannya, apakah sikap ekstrem dengan meledakkan bom atau jenis kekerasan lainnya, yang memakan korban sebagian besar adalah umat seagama dan sebangsa, dapat dibenarkan?

Tentu saja, secara otomatis kita akan menjawab bahwa tidak sepatutnya orang yang memahami ajaran agama dengan baik melakukan tindakan teror. Ia justru diturunkan demi kepentingan kemanusiaan itu sendiri, bukan sebaliknya. Itu sebanbya, jika di balik kedatangan Islam justru melahirkan kekerasan sudah pasti bukan Islam, tetapi itu hanya pemahaman sebagian orang terhadap Islam yang belum tentu diamini oleh sebagian muslim lainnya.

Problem pemahaman seperti di atas tak jarang dijumpai di lingkungan kita. Seakan-akan Islam identik dengan kekerasan, ancaman, dan lain-lain. Sehingga, Islam tampak begitu menakutkan di mata pemeluknya. Akibat dari pemahaman semacam ini, umat Islam cenderung hitam putih dan tertutup dalam memahami ajaran agama. Sehingga siapapun yang berbeda paham dan keyakinan harus ditumpahkan sebagaimana Tuhan mengancam dalam ayat-ayat-Nya.

Pemahaman yang tidak proporsional terhadap fungsi dan substansi agama memang bisa membuat fatal bagi penganutnya. Agama yang seharusnya menjadi payung yang memberikan kedamaian dan pencerahan bagi kehidupan manusia akan beralih fungsi menjadi sumber konflik dan kekerasan.

Berbicara tentang “pemahaman terhadap Islam”, tentu tidak lepas dari peran lembaga-lembaga keagamaan, seperti pesantren, di mana pemahaman itu diperoleh. Ada indikasi bahwa pemahaman seperti itu bisa saja berawal dari cara atau metode pengajaran agama yang memang perlu dibenahi dari lembaga-lembaga itu.

Kecurigaan semacam ini telah lama diperbincangkan oleh para tokoh Islam di ruang-ruang diskusi. Bahkan sejumlah lembaga telah melakukan penelitian terhadap lembaga-lembaga pesantren. Bagi mereka, pesantren memiliki tanggungjawab besar dan peran strategis dalam mengembangkan pendidikan Islam. Ini disebabkan karena pesantren merupakan lembaga pendidikan awal yang banyak mencetak agamawan dan intelektual muslim. Dan lembaga ini secara emosional dan kultural sangat erat kaitannya dengan masyarakat akar rumput.

Di tengah maraknya teror kekerasan atas nama agama, pesantren seringkali mendapat stigma sebagai salah satu pemicunya. Walaupun stigma ini tidak sepenuhnya benar, tetapi fakta menunjukkan bahwa sebagian pelaku teror itu ternyata jebolan pesantren.

Bom Bali menjadi awal tudingan umum pesantren sebagai sarang teroris yang mengesahkan aksi kekerasan atas nama agama. Penghuninya dicap ekslusif, dan tidak toleran. Syak wasangka ini marak sejak tertangkapnya Imam Samudra dan Amrozi cs, sebagai pelaku peledakan bom. Ironisnya, mereka ternyata jebolan pesantren. Wajar saja jika tudingan dialamatkan ke institusi ini. Islamphobia merebak, pesantren pun terstigmakan.

Pesantren Berwawasan Keindonesiaan

Tentu saja tudingan seperti di atas tidak bisa dialamatkan kepada pesantren secara umum, karena pada dasarnya tidak ada satu pun pesantren yang bertujuan mencetak alumninya menjadi teroris dan actor-aktor kekerasan lainnya di ranah publik atas nama Tuhan. Walaupun ada, mungkin hanya kasuistik yang tentu saja tidak bisa digeneralisasi.

Akan tetapi, paling tidak, tudingan ini akan menjadi semacam tantangan sekaligus PR bagi lembaga-lembaga pesantren untuk melakukan langkah-langkah dan rancangan baru terkait metode penyampaian ajaran agama yang lebih berorientasi kepada nilai-nilai lokal, tanpa kehilangan substansi dari agama itu sendiri. Sehingga kehadiran  pesantren ikut memberikan kontribusi bagi terwujudnya demokratisasi di Indonesia yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa ini.

Dalam kurun waktu yang cukup panjang, bangsa ini sebenarnya mempunyai sejarah gemilang tentang pesantren. Dulu, pesantren bisa bersatu dengan semua lini masyarakat dan budaya lokal. Kehadiran Islam tidak pernah bertujuan merusak budaya lokal yang sudah ada, ia justru berusaha melengkapi budaya itu dengan nilai-nilai Islam yang lebih substantif dan universal. Sehingga, budaya yang sebenarnya merupakan produk manusia tidak hanya bermakna bagi kehidupan di dunia tetapi juga bernilai bagi kehidupan akhirat. Dengan cara itu, mereka bisa hidup damai dalam kebhinnekaan. Bahkan, kemerdekaan Indonesia pun bisa terwujud tidak lepas dari peran pesantren ini.

Sejarah ini seharusnya menjadi rujukan bagi pesantren saat ini untuk memelihara warisan para pendahulu bangsa kita yaitu mengembangkan pengajaran Islam yang berwawasan keindonesiaan, sejenis Islam yang tidak terasing dari konteks dan budaya lokalitas kita, Indonesia yang plural ini. Di sinilah arti penting prinsip, menjaga masa lalu yang baik, dan mengambil hal-hal masa kini yang lebih baik. Khazanah masa lalu berupa keislaman yang berwawasan keindonesiaan sebagaimana diwariskan para pendahulu kita harus dijadikan sebagai modal untuk mempererat kebangsaan dan menjunjung tinggi kemanusiaan.

Untuk memenuhi harapan itu, pesantren harus berusaha merancang-bangun model-model pengajaran Islam alternatif yaitu pengajaran Islam yang mampu menterjemahkan teks-teks keagamaan yang otoritatif sesuai dengan konteks dan budaya lokalitasnya dengan tidak mengesampingkan faham keagamaan yang mempunyai orientasi pada kemanusiaan dan moralitas. Dengan cara itu, pesantren akan lebih peka terhadap kebutuhan-kebutuhan bangsa dan Negara kita terutama dalam upaya menekan gerakan Islam yang berbau kekerasan dan pada saat yang sama mempersempit semaksimal mungkin ruang gerak Islam radikal ini.

Oleh karena itu, posisi pesantren bukan semata-mata sebagai wadah transformasi doktrin dan ilmu-ilmu agama, tetapi juga berusaha dengan kreatif mempersatukan nilai-nilai keislaman yang universal itu dengan budaya lokal di mana Islam itu berdiri.

Itulah pesantren yang diharapkan oleh bangsa kita saat ini. Saat di mana Islam seringkali dikambinghitamkan oleh oknom-oknom tertentu untuk menyalurkan kepentingan-kepentingannya dengan melegitimasi kekerasan atas nama Tuhan. Sudah saatnya pesantren unjuk gigi, memerankan dirinya sebagai pembawa kedamaian untuk negeri ini.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: