Home > Uncategorized > N I H I L I S M E; Posisi dan Urgensinya dalam Seluruh PemikiranNietzsche

N I H I L I S M E; Posisi dan Urgensinya dalam Seluruh PemikiranNietzsche

Oleh: Watir Pradhika


I. PENDAHULUAN (Sebuah Pengantar)

Kasar, Sinis, sarkatis, dan penuh kontroversi itulah sosok Nietzsche yang saya kenal. Membaca pemikirannya ibarat mendengar musik Rock yang penuh urakan, sangat kontras dengan pemikiran Kant dan Hegel, yang oleh St. Sunardi, digambarkan dengan musik klasik yang indah nan merdu (baca:nilai). Tapi, itulah ciri khas pemikirannya. Ia tidak pernah puas dengan kemapanan dan dogmatisme. Dia adalah orang pertama yang terang-terangan menyatakan bahwa “Tuhan sudah mati”, sebuah pernyataan yang lebih dari seorang ateis biasa.

Karena itu, ia sering dicemooh, ia dicap gila, ateis, dan lain sebagainya meskipun pada akhir hidupnya ia terus menyebut nama Tuhan dan begitu merindukannya. Gagasan ekstrem yang menstigmanya sebagai seorang ateis radikal adalah nihilisme. Hadirnya nihilisme dalam dunia filsafat menjadi semacam penyakit yang memporakporandakan bangunan logika filsafat Barat yang berhasil mengerangkeng “kebenaran” secara monolitik. Betapa tidak, seluruh tatanan kosmis yang diagungkan pada masa itu dipertanyakan kembali bahkan diredusir dalam ketakbermaknaan (atau dalam istilah St. Sunardi “Transevaluasi nilai”). Di tengah orang-orang yang sedang gandrung akan modernisme dengan kemajuan sebagai syahadat-nya, dia berteriak bahwa dunia ini bergerak tanpa kemajuan. Ketika orang-orang sedang mengagungkan rasio, Nietzsche melecehkan apa yang disebut dengan rasio.[1] Semua pernyataan itu lahir sebagai buah dari apa yang disebut nihilisme itu.

Begitu pentingnya filsafat nihilisme dalam pemikiran Nietzsche, maka ia selalu menjadi pijakan utama dalam seluruh pemikirannya. Filsafatnya tentang Kehendak untuk Berkuasa, kritik atas moralitas, Ubermensch, dan kematian Tuhan hanyalah merupakan buah dari apa yang disebut sebagai nihilisme itu. oleh karena itu, penulis dalam makalah ini akan mencoba menguraikan tentang pemikiran ini. Walaupun penulis sendiri kurang yakin apakah yang ditulis dalam makalah ini adalah gagasan Nietzsche yang sebenarnya, atau jangan-jangan hanyalah merupakan hasil pembacaan penulis yang keliru terhadap pemikirannya. Wallahu A’lam bi al-Showab!. Namun, satu hal yang tidak penulis ragukan adalah: Nietzsche melakukan meditasi filosofis tanpa mengenal lelah.

 

II. PEMBAHASAN

 

1. Pengertian Nihilisme & Kedatangannya

Nihilisme apabila dilihat dari bentuk kata kerjanya berarti meniadakan, membasmi, memusnahkan, menghapuskan, dan melenyapkan segala eksistensi. Terminology ini dipakai Nietzsche untuk menggambarkan bahwa apa saja yang dulu dianggap bernilai dan bermakna kini sudah mulai memudar dan menuju keruntuhan. Dunia ini terutama keberadaan manusia di dunia tidak memiliki tujuan.[2]

Renungan tentang nihilisme pada intinya adalah sebuah renungan tentang krisis kebudayaan , khususnya kebudayaan Eropa sebagaimana disaksikan oleh Nietzsche pada akhir abad lalu. Nietzsche melukiskan bahwa gerak kebudayaan Eropa pada waktu itu bagaikan aliran sungai yang menggeliat kuat saat mendekati bibir samudra. Metafor ini ditujukan pada orang-orang Eropa yang tidak sanggup lagi berpikir tentang dirinya. Inilah satu dari ratusan tanda dari kedatangan nihilisme. Jadi, nihilisme adalah semacam insight tentang apa yang hendak terjadi pada zaman sesudahnya, sebagaimana dalam aforismenya yang dikutip oleh St. Sunardi:[3]

 

What I relate is the history of the next two centuries. I describe what is coming, what can no longer come differently: the advent of nihilism. For some time now our whole European culture has been moving as toward a catastrophe, with a tortured tension that is growing from decade to decade: restlessly, violently, headlong, like a river that wants to reach the end.

 

Nihilisme ini timbul, di samping merupakan hasil perkembangan dari sejarah sebelumnya (dari abad pertengahan sampai abad modern), juga merupakan akibat dari timbulnya pemikiran-pemikiran Nietzsche yang menghantam sisa-sisa pemikiran dan kepercayaan sebelumnya. Dalam arti yang kedua ini, Nietzsche harus dipandang sebagai tokoh yang mempercepat proses nihilisme secara radikal.

Nihilisme sebagai runtuhnya nilai dan makna meliputi seluruh bidang kehidupan manusia yaitu nilai-nilai moral yang ditawarkan lewat institusi keagamaan (bersifat mutlak dan absolut) dan ilmu pengetahuan. Runtuhnya dua bidang ini membuat manusia kehilangan jaminan dan pegangan untuk memahami dunia dan hidupnya. Singkatnya, nihilismemengantarkan manusia pada situasi krisis atau kepada hari yang menjadi malam terus menerus karena seluruh kepastian hidupnya sudah runtuh.[4]

Demikianlah, seakan-akan manusia dibuat tidak berdaya dalam satu keyakinan absolut yang tanpa disadari justru mendistorsi manusia sebagai makhluk yang memiliki kehendak untuk berkuasa. Keberanian Nietzsche mewartakan nihilisme setidaknya memiliki dua implikasi tragis yaitu menghentikan gerak suksesi tradisi filsafat Barat yang memberi ruang gerak terbetuknya totalisasi atau universalisasi terhadap pembenaran. Dan juga tema nihilisme menjadi ungkapan profetis tentang suatu kondisi yang akan terjadi beberapa abad setelah Nietzsche di mana standar hidup yang sublim tidak lagi diperlukan.[5]

 

2. Nihilisme dalam “Tuhan sudah Mati”

Sebagaimana dijelaskan di atas, Gagasan tentang nihilisme ini sangat penting dalam pemikiran Nietzsche. Karena nihilisme inilah yang menjadi dasar bagi munculnya pernyataan tentang kematian Tuhan. Tidak heran jika tema nihilisme ini dalam beberapa bukunya, sebagaimana diterangkan juga dalam buku St. Sunardi, dibahas cukup mencolok dan menjadi dasar bagi seluruh aforismenya, terutama dalam buku Der Wille zur Macht (The Will to Power).[6] Dengan nihilisme, Nietzsche ingin melepaskan manusia dari candu nilai yang telah menjadi kuk bagi kelangsungan hidup manusia dalam rangka membermaknai dirinya. Hidup menjadi bermakna ketika berada dalam ketiadaan nilai atau makna.

Nietzsche meramalkan bahwa gerak sejarah akan mengarah pada suatu bentuk nihilisme yang radikal. Nihilisme kemudian berujung pada pernyataan yang berbunyi “Tuhan sudah Mati”, bahkan “Tuhan-tuhan Sudah mati”. Secara sempit, yang dimaksud dengan matinya Tuhan adalahruntuhnya jaminan absolute yaitu Tuhan, yang merupakan sumber pemaknaan hidup dan hidup manusia. Situasi ini oleh Nietzsche disebut dengan nihilisme. Namu sebenarnya, Tuhan dalam pengertiannya lebih luas dari pada pengertian sebagaimana doipahami oleh kebanyakan orang. Baginya Tuhan hanyalah suatu model untuk menunjuk setiap bentuk jaminan kepastian untuk hidup dan manusia. Oleh karena itu, walaupun orang sudah membunuh Tuhan, orang belum tentu tidak menghidupkan bentuk-bentuk Tuhan baru lainnya. Model-model Tuhan baru itu adalah Ilmu Pengetahuan, idea, kepastian akan kemajuan, dan lain-lain. semua itu adalah pulau-pulau baru bagi orang yang takut berlayar, setelah benuanya dihancurkan oleh samudera.

Kematian Tuhan (God is Dead) adalah sebuah pilihan hidup yang tak perlu diratapi. Kita berhak menentukan pilihan–Tuhan kita bunuh beramai-ramai atau kita membiarkannya hidup?–Jika Tuhan mati, maka kita benar-benar memahami eksistensi diri sebagai manusia yang unggul, namun sebaliknya dengan membiarkan Tuhan berarti kitapun membiarkan eksistensi atau kemampuan vital kita dilucuti dan akhirnya kita menjadi tawan moral tanpa bisa melalukan perlawanan sedikitpun.

Dengan terbunuhnya Tuhan, berakhirlah semua nilai absolut dan manusia memasuki wilayah territorial yang tak bertuan. Dalam salah satu karya monumentalnya Twilight of the Idols and Anti-Christ, Nietzsche menaruh kecurigaan terhadap para filsuf pasca sokrates khususnya Plato yang telah menyihir pemikiran filsuf-filsuf sesudahnya dengan gagasan transcendentalnya yang bermuara pada pembentukan pandangan metafisika Barat yang kemudian dibungkus dalam tradisi kristenitas.[7]

Menurut Plato dunia terbagi menjadi dua: dunia inderawi dan dunia idea. Dalam dunia inderawi manusia hanya mengenal pendapat sedangkan dalam dunia idea pengenalan manusia memasuki unsur ideal–episteme (pengetahuan) – kepastian dan kesahihan sebuah kebenaran hanya besemayam dalam dunia idea atau episteme. Dan pencapaian terhadap dunia idea hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan (para filsuf). Asumsi ini mendorong manusia berupaya memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan demi menemukan absolutsitas yang bertengger dalam dunia idea.

Salah satu filsuf yang memperkuat doktrin Plato adalah Kant. Distingsi atas fenomena dan nomena[8] menyisakan persoalan pelik yang membawa manusia dalam sebuah ilusi tak bertepi. Kant mengatakan bahwa hakikat sebuah realitas berada dalam dunia noumena. Fenomena hanya menampilkan objek dalam dimensi-dimensi yang terbatas tanpa bisa menghadirkan benda dalam kebendaannya (das Ding an sich).

Doktrin semacam ini membuat Nietzsche menjadi geram, pasalnya pengetahuan tidak sekadar bersembunyi dalam dunia metafisis tetapi nampak dalam keseharian. Yang disebut riil adalah apa yang nampak/kelihatan dan juga bisa dianalisa melalui kesadaran inderawi manusia tanpa harus bertarak menyingkap objek sesungguhnya yang bersembunyi di belakang semua objek inderawi. Manusia didorong untuk mencari sesuatu yang riil di balik relaitas inderawi. Karena dunia dengan segala fenomenanya bersifat fana dan tidak bernilai apa-apa; kualitas hidup yang sesungguhnya bersemayam di belakang fenomena.

Agama Kristen masa itu telah menjadikan penghuni Eropa hidup dalam situasi hipokrit. Mengapa? Kristenitas mewarisi gagasan Plato dengan mengajarkan bahwa hidup yang sebenarnya bukan berada di dunia ini, dunia hanyalah persinggahan yang penuh dengan kebobrokan akibat dosa dan sekarang ini seluruh umat manusia mengalami pesakitan seperti layaknya seorang perempuan yang sedang bersalin. Untuk keluar dari polemik tersebut manusia memerlukan jaminan keselamatan sebagai nilai-nilai luhur yang akan mengarahkan ke dunia atas (baca: surga). Karenanya sikap terbaik yang perlu dilakukan manusia beragama: fatal strategy yaitu pasrah pada semua ketentuan absolut/Tuhan yang tergurat dalam kitab suci. Bagi Nietzsche hal tersebut adalah super TOLOL/GOBLOK tak bertepi: manusia telah ditipu daya melalui bahasa-bahasa dogmatis agar menggaransikan hidupnya hanya pada kekuatan absolut.

Terobosan radikal Nietzsche mengobrak-abrik hakikat kekristenan ini menyebabkan kebencian kaum agamawan terhadap Nietzsche bahkan hingga saat ini karena konsepnya menjadi ancaman besar bagi stabilitas kehidupan umat beragama (apapun agamanya). Agama tidak lain adalah sebuah strategi untuk menghilangkan sengat manusia, sehingga melaluinya manusia digiring untuk menegasi realitas inderawi. Jadi dalam perspektif agama gagasan nihilisme adalah runtuhnya nilai-nilai absolut di mana Tuhan tidak lagi berperan sebagai sumber dari semua aturan moral dan teologi.

 

3. Nihilisme dalam Moralitas

 

Selain itu, problem moralitas dalam agama Kristen juga menyedot perhatian Nietzsche. lagi-lagi tradisi Platonik yang kemudian diperkuat oleh Immanuel Kant membuat mentalitas masyarakat Eropa menjadi buruk. Menurut Nietzsche, Kant dalam kritik der Praktische Vernunft mendasarkan moralitas pada nilai-nilai/ sanksi-sanksi ilahi yang bermuara pada meleburnya filsafat ke dalam wilayah agama. Pandangan ini dibangun atas dasar teorinya tentang rasio praktis.yang menunjukkan adanya impratif kategoris dan atas dasar ketiga postulatnya: kebebasan kehendak, imortalitas jiwa dan keberadaan Tuhan.[9]

Kritik Nietzsche terhadap persoalan moral terurai melalui ilustrasi mengenai pembedaan antara moralitas tuan dan moralitas budak. Moralitas tuan diasumsikan sebagai moralitas luhur dan terhormat di mana baik atau buruk bukan ditentukan bersadarkan perilaku melainkan siapa yang berada di balik semua perilaku itu. Selain itu moralitas tuan mengklaim dirinya sebagai sosok yang berdaulat, berkuasa dan ningrat yang segala tindaknnya selalu baik walaupun kenyataannya buruk. Sedangkan tindakan moralitas budak merupakan ingkaran dari moralitas tuan yang kebebasannya dikebiri demi memperkenankan diri kepada tuannya. Karena itu sikap yang perlu dikembangkan adalah kelemah-lembutan, simpati, kerendah-hatian dan lain-lain yang dikategorikan sebagai perbuatan baik menurut perspektif Herdenmoral.[10]

Namun sesungguhnya moralitas jenis ini berambisi menguasai moralitas tuannya meskipun hanya sebatas imajinasi. Mereka sebenarnya mampu mengekpresikan vitalitasnya untuk memberontak kepada moralitas tuan. Moralitas budak ini secara terlihat secara jelas pada masyarakat Kristen-Eropa di mana daya vital manusia harus ditundukan sampai tercipta sikap hidup rendah hati, lemah lembut dan lain-lain. Agama Kristen tidak memiliki keberanian melakukan konversi menjadi moralitas tuan. Justru sebisa mungkin potensi manusia dibelenggu sehingga tidak menggangu stabilitas kehidupan sosial yang selama ini tertata rapi dalam sebuah tradisi platonik.

 

4. Nihilisme dalam gagasannya tentang Ubermensch

 

Melalui pengenasian atas segala bentuk eksistensi jaminan absolut, maka lahirlah manusia unggul yang mampu mencintai nasib dan dunia. Alegori tentang Übermensch secara implisit berasal dari daya cipta estetis Dionysian yang dalam perspektif Nietzsche memberi ruang gerak bagi suksesi kegilaan. Secara eksistensial Übermensch adalah cara bagaimana manusia memberi makna terhadap kekosongan makna bagi dirinya sendiri bahwa hidup ini nihil dengan tanpa memberi celah sedikitpun pada intervensi nilai adikodrati.[11] Berkaitan dengan hal tersebut Zarathustra berfirman:

“Behold, I teach you the overman. The overman is the meaning of the earth. Let your will say: the overman shall be the meaning of the earth! I beseech you, my brothers, remain faithful to the earth, and do not believe those who speak to you of otherworldly hopes! Poison-mixer are they, whether they know it or not. Despisers of life are they, decaying and poisoned themselves, of whom the earth is weary: so let them go.”

Übermensch adalah makna dunia ini yang mengajarkan kepada kita agar tidak mempercayai omong kosong yang mengajarkan berbagai harapan di balik dunia ini. Nietzsche menyebut para pembual itu sebagai para penyebar racun yang melecehkan kehidupan. Übermensch adalah sisi eksistensial manusia yang paling penting karena di dalamnya manusia didorong untuk mengoptimalkan seluruh potensi diri dalam menghadapi perhelatan hidup yang pada akhirnya ia menyatakan dengan kesadaran diri bahwa nasib hidup perlu kita cintai.

Inilah keutamaan manusia dipulihkan, tak sekedar terombang-ambing dalam ketidakpastian yang terus diratapi sebagai takdir dan memenjara, melainkan manusia bebas-merdeka yang teguh karena ia sadar dan paham akan arti kehidupan. Jadi secara sederhana spirit nihilisme Nietzsche merupakan bentuk protes atas segala sesuatu yang dianggap bernilai/bermakna yaitu Tuhan sebagai kekuatan adikodrati yang mengatur perilaku manusia. Dengan kata lain nihilisme adalah hasil yang tak terelakan dari seluruh gerak sejarah umat manusia yang sebelumnya selalu dibayang-bayangi oleh gagasan ketuhanan.

 

III. PENUTUP (Sebuah Refleksi Singkat)

Demikianlah, bukan asal bunyi dia terang-terangan menyatakan bahwa “Tuhan sudah mati”. Seperti sudah kita baca, justru dia begitu punya argumentasi kuat dengan pernyataan itu, yaitu apa yang kita kenal dengan nihilisme. Gagasannya tentang nihilisme ini yang kemudian tercermin tidak hanya dalam keseluruhan pemikiran selanjutnya, tetapi juga tercermin dalam gaya tulisannya yang kelihatan kacau dan tidak sistematis. Semua itu menggambarkan sosoknya yang mencela kemapanan dan dogmatisme.

Tidak hanya itu, dia bahkan tidak percaya bahwa ada kebenaran yang absolute. Kebenaran adalah ilusi. Kebenaran, begitu ia katakan, adalah semacam kekeliruan yang tanpanya sejenis makhluk tak dapat hidup. Sehingga, jangan pernah mencari kebenaran, karena kehendak untuk mencari kebenaran, bagi Nietzsche, adalah ekspresi ketakutan akan keyataan hidup.

Berkenalan dengan pemikiran Nietzsche lewat buku St Sunardi dan Frenky ini seakan-akan saya ditawarkan sebuah kesempatan dan peluang untuk ikut serta dalam suatu penjelajahan yang mengguncang, menjebol batas, menemui malam, memasuki sebuah gelora yang merangsang, karena lewat pemikirannya saya senantiasa sering dikejutkan oleh tendensinya, yakni bahaya. Nietzsche sendiri mengatakan apa yang akan kita alami dalam arung itu. ia menulis dalam suatu aforismenya:

 

……kita sudah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang-dan lagi, kita sudah mengapuskan daratan dibelakang kita. 1 dan kini, hati-hatilah kau kapal mungil! Samudera yang mengelilingimu……….

 

Sepintas pernyataan di atas seperti agak berlebihan, tapi yang jelas, ini bukan suara dari orang yang putus asa setelah ia mengatakan bahwa kebenaran adalah ilusi. Yang terbersit dari kalimat-kalimat itu justru sebuah isbat kepada hidup dengan segala rindu yang tak sampai, rumah yang tak pernah tegak, petaka yang tak putus. Wallahu A’lam


[1] Lihat St. Sunardi, Nietzsche: Gagasan tentang Kehendak untuk Berkuasa, (Yogyakarta: LKiS, 2006), dalam pengantarnya. Hal. xiii

[2] Pengertian ini dikutip dari paper “Filsafat Sejarah” yang ditulis oleh Dr. Oemar Familik

[3] St. Sunardi, NIETZSCHE, (Yogyakarta:LKiS,2006), hal. 33

[4] F. Budi Hardiman, Filsafat Barat Modern, (Jakarta:PT Gramedia,2007), hal. 281

[5] Hikmah Zaratustra (terjemahannya diterbitkan oleh PT. Bentang)

[6] St. Sunardi, Nietzsche, (Yogyakarta: LKiS, 2006), hal. 31

[7] Nietzsche, Twilight Idols and. Anti-Christs, terjemahannya oleh Hartoko Hadikusumo dengan judul “Nietzsche: Senjakalan Berhala dan Anti-Krits (Yogyakarta: Bentang,2002), hal 31-40

[8] Lihat  F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Macheavelli sampai Nietzsche, (Jakarta:PT Gramedia) hal. 138

[9] St. Sunardi, NIETZSCHE: Kehendak untuk Berkuasa, (Yogyakarta: LKiS), hal. 23

[10] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Macheavelli sampai Nietzsche, (Jakarta:PT Gramedia) hal. 268

[11] Ibid, hal . 154

Categories: Uncategorized
  1. March 8, 2011 at 2:57 pm

    waaaaah… kayaknhya dia ateis bangt y…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: