Home > Uncategorized > BEASISWA ATAU SEKS BEBAS?

BEASISWA ATAU SEKS BEBAS?

Oleh Watir Pradhika

M

itos bahwa pendidikan tinggi hanya dimiliki oleh pemilik modal (kaum kapitalis) kini perlahan dihancurkan oleh semakin tingginya tingkat kesadaran manusia untuk merebut peluang-peluang masa depan. Hal ini ditandai oleh semakin banyaknya anak-anak muda tak terkecuali mereka yang hidup di desa-desa yang berlomba-lomba mununtut ilmu sampai ke perguruan tinggi. Intinya,  pendidikan yang dulu terkesan elitis kini sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan dinikmati oleh sebagian besar orang, termasuk mereka yang berlatar belakang ekonomi menengah ke bawah.

Namun patut diakui, Pergeseran paradigma ini lambat laun menjadi persoalan tersendiri dalam dunia pendidikan kita. Saat ini, pelajar sering dihadapkan pada posisi yang serba sulit. Pada satu sisi para pelajar menjadi harapan bangsa dan negara dengan berbagai tuntutannya, namun disisi lain mereka menjadi objek yang termarjinalkan bahkan seringkali menjadi pusat tuduhan. Di samping itu, pelajar merasakan tuntutan hidup yang semakin kompleks dan tidak ringan. Belum lagi mereka harus menanggung biaya pendidikan yang memang tidak murah. Akibatnya mereka harus melakukan banyak hal untuk memenuhi dua kebutuhan itu. Intinya di satu sisi mereka berhadapan dengan banyak teori atau idealisme, tetapi disisi lain berhadapan dengan banyak kenyataan yang tidak sesuai dengan idealisme dan nalarnya.

Akhir-akhir ini kita sering mendengar pelajar narkoba, pelajar seks bebas/free sex, pelajar tawuran, dan lain sebagainya. Tentu semua itu terjadi disebabkan oleh banyak factor. Tarik menarik antara tuntutan untuk berpendidikan dengan kondisi perekonomian yang tidak merata juga bisa menjadi factor di samping factor-faktor lainnya. Salah satu contohnya misalnya dalam kasus pelajar seks bebas di beberapa negara, termasuk juga di Indonesia, yang sebagaian besarnya adalah karena kedua tuntutan itu tidak seimbang.

Terlalu banyak fakta yang bisa kita amati dilapangan. Akhir-akhir ini, misalnya, Seorang calon dokter muda menjual keberawanannya melalui situs eBay. Dan berhasil. Ia rela menjual keperawanannya selain untuk membantu biaya kuliah juga ingin meringankan beban orang tuanya.   Keperawanan gadis berusia 18 tahun itu dijual hingga Rp2,85 miliar. Sebuah nominal yang fantastis.

Kasus yang sama juga sering terjadi di Indonesia. Salah satunya dilakukan seorang pelajar di Jakarta. Meski berparas cantik, seorang wanita asal Tanjung Priuk rela menjual keperawanannya untuk membayar uang masuk kuliah.

Memang, berpendidikan tanpa didukung dengan kondisi ekonomi yang memadai akan menjadi problem tersendiri bagi proses belajar anak. Seperti contoh di atas, mereka rela menjual diri demi memperjuangkan pendidikannya. Sebuah tujuan yang sangat mulya tapi harus ditempuh dengan cara-cara yang naïf.  Tentu saja ini merupakan tuntutan bagi semua pihak terutama pemerintah untuk terus melakukan terobosan-terobosan baru guna menopang keseimbangan kedua tuntutan itu. Karena bagaimanapun juga mereka adalah generasi yang akan melanjutkan perjuangan bangsa dan negara.

Apalagi saat ini perguruan tinggi tidak hanya menjadi lahan untuk pengembangan ilmu tapi juga sebagai lahan bisnis. Kita lihat, misalnya, diterapkannya BHP (Badan Hukum Pendidikan) pada sistem perguruan tinggi. Dimana perguruan tinggi dituntut untuk bisa dikelola secara mandiri tanpa campur tangan pemerintah. Sehingga masing-masing perguruan tinggi harus melakukan upaya-upaya pengelolaan dengan sistem bisnis yang modern guna menopang kebutuhan-kebutuhannya. Tentu ini akan berakibat pada semakin mahalnya biaya pendidikan. Sehingga jika tidak ada upaya-upaya baru baik dari pemerintah ataupun dari pihak kampus, maka tidak dipungkiri akan banyak anak muda yang tidak mendapatkan pendidikan, atau justru pendidikan bisa diraih tapi harus dilalui dengan cara-cara yang naïf seperti contoh di atas.

Oleh karena itu, pemerintah harus mencanangkan program-program baru bagi pendidikan kita. Paling tidak ada dua hal yang harus dijawab oleh pemerintah, melakukan pemerataan ekonomi atau mencanangkan beasiswa dan pendidikan yang murah bagi anak-anak muda berprestasi?. Dengan demikian kita akan melihat betapa banyak anak-anak muda yang terselamatkan. Wallahu a’lam

Categories: Uncategorized
  1. March 8, 2011 at 1:12 am

    soo good… saya sepakat

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: