KHILAFAH RASYIDAH: Pereode Abu Bakar dan Umar Bin Khattab

Oleh Watir Pradhika

A. Terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah dan Pandangan Sunni Soal Khalifah

1. Proses Terpilihnya Abu Bakar

Sebagaimana umum diketahui bahwa Muhammad disamping posisinya sebagai pemimpin keagamaan, juga sebagai pemimpin politik. Ia adalah nabi yang terakhir. Tidak mungkin ada nabi sepeninggal beliau. Artinya, posisi sebagai pemimpin keagamaan (setingkat nabi) tidak mungkin ada yang meneruskan tetapi sebagai pemimpin politik dapat saja digantikan dan diteruskan oleh sahabat beliau.[1]

Pertanyaannya kemudian, siapa yang menggantikan nabi sebagai pemimpin politik, apa
syaratnya dan bagaimana caranya?

Wafatnya Rasul membuat Madinah bising dengan tangisan. Umat pun bertanya-tanya siapa yang akan memimpin mereka. Sebagian sahabat terkemuka rupanya sudah memikirkan hal itu dan berkumpul di perkampungan Bani Sa’idah.[2] Yang mula-mula berkumpul di sana adalah golongan Anshar, yaitu suku Khazraj dan ‘Aus.[3]

Umar rupanya mendengar pertemuan tersebut. Ia mencari Abu Bakar dan menerangkan gawatnya persoalan. Umar berkata, “Saya telah mengetahui kaum Anshar sedang
berkumpul di Safiqah, mereka merencanakan untuk mengangkat Sa’ad bin Ubadah–salah seorang petinggi suku Khazraj -untuk menjadi pemimpin. Bahkan di antara mereka ada yang mengatakan dari kita seorang pemimpin dan dari Quraisy seorang pemimpin.

Ini dapat membawa pada dualisme kepemimpinan yang tak pelak lagi akan menggoyang ukhuwah Islam. Setelah mengerti betapa gawatnya persoalan, Abu Bakar mengikuti Umar ke Safiqah. Di tengah perjalanan keduanya bertemu Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan ia diajak ikut serta. Ketika mereka tiba telah hadir terlebih dulu beberapa kaum muhajirin yang tengah terlibat perdebatan sengit dengan kaum Anshar. Umar yang menyaksikan di depan matanya bahwa Muhajirin dan Anshar akan mencabik-cabik ukhuwah Islamiyah hampir tak kuasa menahan amarahnya, tapi Abu Bakar berusaha menahannya.

Setelah mendengar perdebatan yang terjadi, Abu Bakar mulai berbicara dengan tenang dan ia mengingatkan bahwa bukankah Nabi pernah bersabda, “kepemimpinan itu berada di tangan suku Quraisy”.[4] Abu Bakar tak lupa mengingatkan pada kaum Anshar akan sejarah pertentangan kaum Khazraj dan Aus yang bila meletup kembali (masing-masing mengangkat pemimpin) akan membawa mereka semua ke alam jahiliyah lagi. Kemudian Abu Bakar menawarkan dua tokoh Quraisy, Umar dan Abu Ubaidah. Keraifan Abu Bakar dalam berbicara di tengah suasana penuh emosional rupanya mengesankan mereka yang hadir. Umar menyadari hal ini dan ia berkata: “bukankah Abu Bakar yang diminta oleh nabi untuk menggantikan beliau sebagai imam shalat ketika nabi sakit? Umar dan Abu Ubaidah segera membai’at Abu Bakar tapi mereka didahului oleh Basyir bin Sa’ad, seorang tokoh Khazraj, yang membai’at Abu Bakar. Kemudian yang hadir di Safiqah, semuanya memberi bai’at Abu Bakar.[5]

Besoknya, Abu Bakar naik ke mimbar dan semua penduduk Madinah membai’atnya. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Sa’ad bin Ubaidah tidak membai’at Abu Bakar serta tidak ikut berjemaah bersamanya. Di antara penduduk Madinah yang tidak hadir di Saqifah adalah Fatimah Azzahra, Ali bin Abi Thalib[6], dan Bani Hasyim serta pengikutnya. Namun, walaupun demikian, Abu Bakar resmi menjadi khalifah menggantikan rasulullah. Kemudian ia berpidato, sebuah pidato yang menurut ahli sejarah dianggap sebagai suatu statement politik yang amat maju, dan yang pertama sejenisnya dengan semangat “modern” (patisipatif-egaliter).[7]

Ketika diberitahukan kepada Imam Ali r.a. tentang peristiwa yang telah terjadi di Safiqah Bani Sa’idah segera setelah rasul wafat, ia bertanya: “Apa yang dikatakan kaum Anshar?” “Kami angkat seorang dari kami sebagai pemimpin, dan kalian (kaum muhajirin) mengangkat seorang dari kalian sebagai pemimpin!” “Mengapa kamu tidak berhujjah atas mereka bahwa Rasulullah SAW telah berpesan agar berbuat baik kepada orang-orang Anshar yang berbuat baik dan memaafkan siapa diantara mereka yang berbuat salah” tanya Imam Ali lagi. “Hujjah apa yang terkandung dalam ucapan seperti itu?” “Sekiranya mereka berhak atas kepemimpinan umat ini, niscaya Rasulullah SAW tidak perlu berpesan seperti itu tentang mereka.” Kemudian Imam Ali bertanya: “Lalu apa yang dikatakan orang Quraisy?” “Mereka berhujjah bahwa Quraisy adalah ‘pohon’ Rasulullah SAW.” “Kalau begitu mereka telah berhujjah dengan ‘pohonnya’ dan menelantarkan buahnya!”[8]

2.             Pandangan Sunni soal Khilafah

Mayoritas pandangan madzhab Sunni dewasa ini adalah mengikuti pandangan Asy’ariyyah. Mereka, sebagaimana Mu’tazilah, meyakini bahwa institusi imamah/khilafah adalah perlu dan menjadi kewajiban seorang manusia untuk menunjuk seorang khalifah.[9]

Madzhab Sunni  mengakui empat prinsip utama dalam memilih seorang khalifah:

1.             Ijma’ yaitu konsensus tentang orang yang memegang kekuasaan dan kedudukan pada sebuah titik tertentu. Mufakat seluruh pengikut Nabi Saw tidak menjadi keharusan, juga tidak terlalu penting untuk mengamankan kedudukan dan kekuasaan orang yang berkuasa di tengah-tengah umat.

2.             Pencalonan oleh khalifah sebelumnya.

3.             Syuraa yaitu pemilihan oleh sebuah komite

4.             Kekuatan Militer, yaitu jika seseorang meraih kekuasaan dengan kekerasan ia akan menjadi khalifah.

Demikian juga, bilamana seorang khalifah telah membangun dirinya dengan kekuatan tapi kemudian ditaklukkan oleh orang lain, ia akan disingkirkan dan orang yang menaklukkanya akan dianggap sebagai imam atau khalifah.

Bagi madzhab Sunni, ada sepuluh syarat seseorang untuk dapat menjadi khalifah: Muslim, Dewasa, laki-laki, Berakal sehat, Berani, Merdeka, bukan seorang sahaya, Dapat dihubungi dan tidak tersembunyi, Mampu mengadakan perang dan tahu taktik berperang, Adil, Mampu mengeluarkan fatwa dalam bidang hukum dan agama , yaitu, ia harus seorang mujtahid.[10]

Namun dua yang terakhir hanya bersifat teoritis belaka, sebagaimana disinggung pada bagian sebelumnya. Bahkan, seorang awam dan bermoral buruk dapat menjadi seorang khalifah. Oleh karena itu, syarat-syarat ‘adil dan fakih (mumpuni) dalam bidang agama tidak memiliki landasan sama sekali.

Mereka berpandangan bahwa ismah tidak menjadi keharusan bagi seorang khalifah. Kalimat yang dilontarkan oleh Abu Bakar dari mimbar di hadapan para sahabat, dinukil untuk menguatkan pandangan ini. Abu Bakar berkata: “Ayyuhannas!”, “Aku telah dijadikan penguasa atas kalian meskipun aku tidak lebih baik dari kalian; jadi, dalam menunaikan tugasku, aku meminta pertolongan kalian; dan jika aku berbuat salah, kalian harus meluruskanku. Kalian harus tahu bahwa setan senantiasa dapat datang kepadaku. Jadi jika aku marah, menjauhlah dariku.”[11]

B. Perang Yamamah dan Penghimpunan al-Qur’an

Para sahabat lebih mengandalkan hafalan ketimbang tulisan. Masa itu para sahabat terkenal memiliki daya ingat yang kuat dan hafalan yang cepat, tetapi sedikit yang mampu menulis, sarananya pun jarang. Ayat-ayat al-Qur’an ketika itu tidak dihimpun dalam satu mushaf, bahkan setiap kali turun para sahabat menghafalkannya langsung, dan menuliskannya pada media yang mudah didapat, seperti pelepah kurma, lembaran kulit, pecahan batu, dan sebagainya. Para qurra’ lebih banyak jumlahnya.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa nabi mengutus 70 orang yang disebut sebagai para qurra’. Di tengah perjalanan mereka dihadang oleh sekelompok Bani Salim Ra’I dan Dzakwan dekat sumur Ma’unah. Mereka semuanya dibunuh para penghadang tersebut.

Diantara para sahabat penghafal Al Qur’an ialah: empat khulafa’ rasyidin, Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darda’, dan lainnya.[12]

Ketika Rasulullah wafat, di Madinah terjadi banyak kasus di antaranya adalah orang yang tidak mau membayar zakat. Mereka menganggap bahwa zakat hanya untuk nabi. Ada juga kalangan yang mengaku sebagai nabi, salah satunya adalah Musailamah.

Melihat kenyataan ini, Abu Bakar mengerahkan pasukan untuk menyerang kelompok-kelompok itu. singkat cerita, perang ini menelan banyak korban yang sebagian besarnya adalah para penghafal al-Qur’an seperti Salim Maula Abi Hudzaifah, salah seorang yang dinyatakan Nabi boleh diambil ilmu-ilmu Al-Qur’annya.[13]

Setelah perang Yamamah, Umar bin Khaththab mengisyaratkan kepada Abu Bakar agar melakukan penghimpunan Al-Qur’an. Abu Bakar sementara waktu belum melakukannya, namun Umar terus mendesaknya berulang kali dengan alasan-alasan yang masuk akal, hingga pada akhirnya Abu Bakar mengafirmasi permintaan Umar tersebut. Beliaupun memanggil Zaid bin Tsabit, ketika Zaid datang di tempat itu hadir pula Umar, Abu Bakar mengatakan kepadanya: “Sesungguhnya engkau adalah pemuda yang cerdik, kami tidak pernah menuduhmu sesuatupun, dan engkau dahulu penulis wahyu Rasulullah, maka periksalah al- Qur’an yang ada sekarang ini, dan himpunkanlah!”. Zaid menceritakan dirinya: “Kemudian saya memeriksa al-Qur’an, dan mengumpulkannya dari pelepah-pelepah kurma, pecahan-pecahan tulang, dan hafalan-hafalan orang lain.”. Setelah terkumpul, Al Qur’an tersebut dipegang Abu Bakar sampai beliau wafat. Kemudian dipegang oleh Umar bin Khaththab, dan dilanjutkan oleh Hafshah binti Umar. Hadits yang panjang ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.[14]

Kaum muslimin sepakat atas hasil usaha Abu Bakar ini, dan menggolongkannya termasuk amal kebajikan beliau. Ali bin Abi Tholib mengatakan: “Orang yang terbanyak kebajikannya terhadap mushaf adalah Abu Bakar, beliaulah yang pertama menghimpun Kitab ini.

C. Proses Penunjukan Umar Bin Khattab

Abu Bakar meninggal dunia, sementara barisan depan pasukan Islam sedang mengancam Palestina, Irak, dan kerajaan Hirah. Ia diganti oleh “tangan kanan”nya, Umar ibn Khattab. Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijaksanaan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat yang segera secara beramai-ramai membaiat Umar. Umar menyebut dirinya Khalifah Rasulillah (pengganti dari Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu’minin (Komandan orang-orang yang beriman).[15]

D. Ekspansi Wilayah: Penaklukan Byzantium

Di zaman Umar gelombang ekspansi (perluasan daerah kekuasaan) pertama terjadi; ibu kota Syria, Damaskus, jatuh tahun 635 M dan setahun kemudian, setelah tentara Bizantium kalah di pertempuran Yarmuk, seluruh daerah Syria jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Dengan memakai Syria sebagai basis, ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan ‘Amr ibn ‘Ash dan ke Irak di bawah pimpinan Sa’ad ibn Abi Waqqash. Iskandaria, ibu kota Mesir, ditaklukkan tahun 641 M. Dengan demikian, Mesir jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Al-Qadisiyah, sebuah kota dekat Hirah di Iraq, jatuh tahun 637 M. Dari sana serangan dilanjutkan ke ibu kota Persia, al-Madain yang jatuh pada tahun itu juga. Pada tahun 641 M, Mosul dapat dikuasai. Dengan demikian, pada masa kepemimpinan Umar, wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir.

E. Kebijakan Welfare State: Tanah Rampasan Perang, Zakat, Jizyah, dan Kharraj

Aktifitas  lembaga  keuangan  memiliki  tugas  yang  sangat  penting dalam perencanaan  ekonomi  di  masa  Umar,  umar  mewajibkan  pembayaran  pajak tanah  (kharaj)  dan  ghanimah.  Pemasukan  negara  di  masa  Umar  ibn  Khattab  meliputi  beberapa  macam,  yaitu  :  zakat,  1/5  hasil  rampasan  perang,  kharaj, dan  jizyah.

Beliau  mengumpulkan  data-data  yang  diperlukan. Ketika beliau melihat luasnya lahan, maka beliau memutuskan untuk tidak dibagikan dan mengambil  langkah musyawarah. Umar telah membahas mengenai cara pembagian harta ghanimah yang sangat banyak, beliau meletakkan dasar-dasar yang digunakan dalam  pembagian  harta  tersebut.  Kebijakan  Umar  dalam  hal  ini  berbeda dengan kebijakan yang diterapkan oleh Abu Bakar RA.

Begitu pula strategi Umar dalam mengatur peperangan yang  menghasilkan  kemenangan  dan  harta  ghanimah. lebih dari itu, keberhasilan strateginya  dalam  perang  juga  diterapkan  dalam  urusan  ekenomi.  Beliau memberi alternatif bagi ahlul kitab antara masuk Islam atau membayar jizyah, dan  juga  meminta  para  petani  untuk  tetap  bercocok  tanam  di  tanah  mereka dengan membayar pajak kharaj. Beliau  juga  membuat  perencanaan  tempat tinggal bagi tentara.

Secara garis besar kebijakan ekonomi Umar terpancar dalam mengatur pendapatan negara dalam hal di bawah ini:[16]

1. Zakat

Ketika  jabatan  diserahkan kepada Umar, kewajiban untuk  membayar zakat  telah  kembali  normal setelah dinetralkan oleh Abu Bakar dengan memerangi mereka yang membangka. Setelah itu, Umar lebih berkonsentrasi dengan persoalan penerapannya yang dipercayakan kepadanya.

Dalam   sebuah   riwayat,   Umar   juga   meringankan   zakat   tanaman, karena  tidak  semua  yang  dipanen  dapat  mengembalikan  modal  usaha petani. Dengan  demikian  tidak  semua  buah  yang  dihasilkan  bumi  harus dikenakan zakat karena dikhawatirkan berkurang untuk kebutuhan pokok. Dengan  demikian Umar telah  meletakkan dasar-dasar keadilan  untuk penarikan zakat. Beliau telah memberikan petunjuk –dengan melihat situasi dan kondisi – agar benar-benar memperhatikan  ketika pengambilan zakat.

Dalam  hal  kebijakannya  untuk  tidak  memberikan  bagian  zakat  bagi salah  satu  kelompok  al-Mu’allaf  ini,  Umar  mengeluarkan pendapatnya yang cukup tekenal: “Tidak ada kepentingan bagi kami atas kamu (kamu masuk Islam atau tidak), karena Allahlah yang membuat Islam jaya dan membuat kamu kaya  jika  kamu  masuk  Islam,  dan  jika  tidak,  maka  hal  itu  menjadi masalah antara kami dan kamu semua”.

Dari pendapat yang dikeluarkan Umar tersebut, beberapa ulama banyak yang menentangnya, terutama dari golongan Syiah Imamiyah yang mengatakan bahwa bagaimana mungkin   Umar berani mengeluarkan kebijakan yang menyangkut pendistribusian zakat tersebut kepada golongan mu’allaf yang telah ditetapkan dengan jelas dalam nash al-Qur’an untuk   diberikan tetapi dibatalkannya, apakah boleh ijtihad dilakukand idasarkanp pada   pertimbangan   istihsan dari sudut pandang rasional dan  sebab yang  masih  bersifat  dzanniyyah  terhadap suatu nash yang telah jelas mengaturnya.

Terhadap  pertanyaan  kontradiktif  tersebut,  dalam  hal  ini  para  ulama menjelaskan   bahwa pendapat Umar tersebut  adalah didasarkan pada pertimbangan  kemaslahatan  yang  menuntut  hal  tersebut  (sebagaimana dijelaskan Ustadz Kahlid Muhammad Khalid dalam     bukunya Al-Dimaqrathiyyah.  Lebih  lanjut  ia  menjelaskan  bahwa  dalam  hal  ini  sosok Umar dianggap sebagai tokoh yang pertama kali menetapkan suatu hukum yang masih bersifat umum dengan menggunakan metode yang baru  yaitu  berdasarkan  pertimbangan kemaslahatan untuk  menghilangkan kesulitan dalam masyarakat.

2. Harta Rampasan Perang

Islam telah meletakkan sistem khusus untuk membiayai misi perluasan Islam, yaitu dengan menyerahkan diri dan harta demi panggilan jihad fisabilillah. Ketika harta rampasan perang dihalalkan bagi para pejuang, maka dengan demikian modal untuk misi perluasan bukan hanya dari  Baitul  Maal.  Posisi Baitul Maal dalam pembiayaan peperangan baik di masa Rasulullah maupun Abu Bakar sangatlah besar, dikarenakan kecilnya sumber pemasukan umum dan tidak ada pengaturan atas pemasukkannya.

Adapun di masa Umar, peran Baitul Maal telah pasti, yang tidak sekedar untuk  membiayai  perang,  tetapi  yang  terpenting  adalah  pengabdian diri dan harta. Mengenai  pengertian  ganimah  dalam  ayat  41  surat  al-Anfal,  telah terjadi  perbedaan  pendapat  antara  fuqaha.  Syafii  mengartikan  ghanimah sebagai  harta  yang  diambil  dari orang  kafir melalui peperangan. Para ahli fiqh duwali menyatakan ganimah adalah segala harta benda yang diperoleh dari tentara musuh atau dari medan perang yang berupa peralatan perang seperti kuda, senjata amunisi dan sebagainya.

3. Kharaj

Pada masa Nabi, kharaj dan tanah yang dibayar sangat terbatas dan tidak dibutuhkan      perangkat yang terelaborasi untuk  administrasi. Sepanjang  pemerintahan  Umar,  banyak  daerah  yang  ditaklukkan  melalui perjanjian  damai.  Dari  sini  timbul  pertanyaan  tentang  pembagian  tanah sebagai  hasil  rampasan.  Sebelum  Umar  mengambil  keputusan,  terjadi perdebatan antara sahabat.

Menurut  Abu  Bakar  al-Jashshash,  ia  mengatakan  bahwa  apa  yang mereka  dapatkan  dari tanah musuh, maka sang penguasa mempunyai pilihan. Jika beliau ingin  membagikannya,  maka  dibagi  menjadi  5  bagian dan membagikannya kepada pasukan yang merebutnya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah atas  tanah  Khaibar.  Sedangkan  menurut  Syafii, apa  yang  dilakukan  oleh  Umar  terhadap  tanah  rampasan  yaitu  setelah mereka rela meninggalkan hak-hak mereka terhadap tanah yang dikuasai. Kalaupun  mereka  menolak  untuk  meninggalkan  tanah  itu,  tidak  berhak seorang pun melarang bagiannya dari mereka. Semua itu  didapatkan dari pendudukannya apabila terjadi dengan pemaksaan. Kalau dikuasai dengan perdamaian, maka tidak diberlakukan hukum harta rampasan.

4. Jizyah

Sumber pajak lain pada masa Umar adalah jizyah yang dipungut dari non-muslim yang hidup di bawah pemerintahan Islam tapi tidak mau masuk Islam. Pajak yang dikenakan pada  mereka  merupakan  pengganti  dari imbalan  atas  fasilitas  ekonomi,  sosial  dan  layanan  kesejahteraan yang merka terima dari pemerintahan Islam juga sebagai jaminan dan keamanan hidup dan harta mereka. Pajak ini mirip dengan zakat fitrah yang dipungut dari muslim setiap tahun.

Perjanjian dengan umat non-muslim–ahlu dzimmah–tersebut dapat memberikan jaminan keamanan baik untuk diri mereka, harta dan agama.Selain merupakan kewajiban dari Allah SWT, jizyah  juga merupakan dasar-dasar   penegak   hukum   agar   para   kafir   dzimmi   itu   dapat   menikmati perlindungan  dari  negara  Islam,  seperti  pembangunan,  pelayanan  dan fasilitas yang ada, maka mereka harus ikut berpartisipasi dalam mengelola harta kekayaan umum. Adapun  pembayarannya  dilakukan  setelah  tiba  masa  panen,  agar sesuai dengan situasi dan kondisi  ahlu dzimmah. Mereka dapat membayar setelah  sumber  untuk  membayar  jizyah  telah  tersedia,  yaitu  hasil  bumi yang telah dipanen. Dengan demikian, hal itu memberikan kemudahan dan keringan kepada mereka.

F. Reformasi Sistem Administrasi

Karena perluasan daerah terjadi dengan cepat, Umar segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia. Administrasi pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah propinsi: Makkah, Madinah, Syria, Jazirah Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan. Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan pekerjaan umum. Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan menciptakan tahun hijrah.[17]

Umar memerintah selama sepuluh tahun (13-23 H/634-644 M). Masa jabatannya berakhir dengan kematian. Dia dibunuh oleh seorang budak dari Persia bernama Abu Lu’lu’ah. Untuk menentukan penggantinya, Umar tidak menempuh jalan yang dilakukan Abu Bakar. Dia menunjuk enam orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang diantaranya menjadi khalifah. Enam orang tersebut adalah Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad ibn Abi Waqqash, Abdurrahman ibn ‘Auf. Setelah Umar wafat, tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Utsman sebagai khalifah, melalui persaingan yang agak ketat dengan Ali ibn Abi Thalib.[18]

Daftar Pustaka

Yatim, Badri.1988, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Pencil

Tim Mizan, Sejarah Kebudayaan Islam, bahan pelajaran untuk Kelas XI Madrasah Aliyah

Ali Abdul Raziq.1929,  Islam wa Usul al-Hukm, Kairo, sebagaimana dikutip dalam salah satu artikel Jaringan Islam Liberal (JIL).

Ahmad, Mumtaz (ed). 1993, Masalah-masalah Teori Politik Islam, Bandung: Mizan

Madjid, Nurcholis, Dr. 1987 “Agama dan Negara dalam Islam: telaah atas Fiqih Siasyah Sunni, dalam Budhy Munawwar Rahman, op.cit

Najhul Balanghah Syarh Muhammad Abduh (diterjemahkan oleh Muhammad Al-Baqir, Bandung: Mizan, 1990)

Nasution, Harun. “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”, Jakarta: UI Press.

Makalah yang ditulis oleh Fahzil ‘Am (Dosen Universitas Islam Negeri Malang) sebagai bahan kuliah di Fakultas Syari’ah UIN Malang

http:/www.khazanah.com/badawisdh/tnpm.html,diakses pada 8 Januari   2011, pukul 14.36 WIB

Wikipedia berbahasa Indonesia

Makalah dengan judul “Kebijakan Ekonomi Umar Bin Khattab” yang dittulis oleh Naili Rahmawati, M.Ag. Makalah ini dibuat sebagai bahan Kuliah di Fakultas Syari’ah IAIN Mataram


[1] Pemisahan ini tidak berarti bahwa pemimpin politik tidak cocern terhadap masalah-masalah keagamaan, akan tetapi pemisahan ini hanya untuk memperjelas batas-batas wilayah kerjanya saja. Untuk lebih jelasnya mengenai keterangan ini lihat Ali Abdul Raziq, Islam wa Usul al-Hukm, Kairo 1929, sebagaimana dikutip dalam salah satu artikel Jaringan Islam Liberal (JIL).

[2] Lihat Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hal. 33

[3] Suku Auz dan Khazraj ini adalah dua suku yang selalu saling bermusuhan sebelum datangnya nabi di Madinah. Abu Bakar khawatir permusuhan itu meletup lagi jika keduanya sama-sama mengajukan calon khalifah. Lebih jelasnhya, silahkan baca Tim Mizan, Sejarah Kebudayaan Islam, bahan pelajaran untuk Kelas XI Madrasah Aliyah

[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, 36

[5] Bai’at sudah digunakan sejak masa nabi hidup seperti misalnya bai’at ar-Ridwan dan Bai’at Aqabah. Intinya bai’at itu berisi janji untuk setia dan patuh pada nabi sebagai pemimpin politik. lebih lanjut silahkan lihat Mumtaz Ahmad (ed), Masalah-masalah Teori Politik Islam, (Bandung: Mizan, 1993) hal. 75-116

[6] Ada yang berpendapat bahwa Imam Ali tidak pernah mengakui kepemimpinan Abu Bakar sampai akhir hayatnya

[7] Lihat Prof. Dr. Nurcholis Madjid, Agama dan Negara dalam Islam: telaah atas Fiqih Siasyah Sunni, dalam Budhy Munawwar Rahman, op.cit, hal. 592

[8] Maksud Imam Ali, jika Quraisy pohon Rasulullah, maka Ali adalah buahnya. Ini bisa dipahami mengingat dalam suku Quraisy, Bani Hasyim dan ABni Umayah adalah dua klan terhormat. Dan Ali merupakan pemuda BAni Hasyim yang terhormat, mengingat Hamzah telah wafat dan Abbas baru masuk Islam, di samping itu, Abu Sufyan dari Bani Umayah juga bari masuk Islam. Jadi jika al-aimmah min Quraisy difahami secara lahiriah maka hanya Imam Ali lah yang berhak menduduki jabatan khalifah. Lihat buku terjemahan dari Najhul Balanghah Syarh Muhammad Abduh (penerjemah Muhammad Al-Baqir, Bandung: Mizan, 1990) hal. 63-64

[9] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, hal. 23

[10] Diambil dari makalah yang ditulis oleh Fahzil ‘Am (Dosen Universitas Islam Negeri Malang). Makalah ini ditulis sebagai bahan kuliah di Fakultas Syari’ah UIN Malang

[11] Ibid,

[12] http:/www.khazanah.com/badawisdh/tnpm.html,diakses pada 8 Januari   2011, pukul 14.36 WIB

[13] Diambil dari Wikipedia berbahasa Indonesia

[14] Lihat Tim MIZAN, Sejarah Kebudayaan Islam (bahan Pelajaran untuk Kelas XI Madrasah Aliyah) hal. 22

[15] Badri Yatim, Sejarah Kebudayaan Islam

[16] Diambil dari makalah yang ditulis oleh Naili Rahmawati, M.Ag dengan judul “Kebijakan Ekonomi Umar Bin Khattab”. Makalah ini dibuat sebagai bahan Kuliah di Fakultas Syari’ah IAIN Mataram

[17] Lihat Badri Yatim, Sejarah Kebudayaan Islam, hal 35

[18] Ibid,

Categories: Uncategorized

Sebab-sebab Turunnya Alqur’an

Oleh Watir Pradhika

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagaimana kita ketahui bahwa al-Qur’an adalah sejenis kumpulan tulisan dalam satu mushaf namun ia tidak merupakan buku dalam pengertian pada umumnya,  karena ia tidak pernah  diformulasikan, tetapi diwahyukan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan situasi yang menuntutnya. Al-Qur’an sendiri sangat menyadari kenyataan ini sebagai sesuatu yang akan menimbulkan keusilan di kalangan pembantahnya. Seperti yang diyakini sampai sekarang, pewahyuan Al-Qur’an secara total dan secara sekaligus itu tidak mungkin karena Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi kaum muslimin secara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada.

Al-Qur’an Diturunkan secara berangsur-angsur selama lebih dari dua puluh tahun. Teks juga menegaskan bahwa sebagian besar ayat dalam Qur’an turun terkait dengan sebab-sebab tertentu, sangat sedikit ayat yang diturunkan tanpa ada sebab eksternal. Ulama al-Qur’an memandang bahwa bingkai realitas melalui mana ayat atau beberapa ayat dapat dipahami, ditentukan oleh sebab atau munasabah tertentu. Atau dengan kata lain, ulama menyadari bahwa kemampuan mufassir untuk memahami makna teks harus didahului dengan pengetahuan tentang realitas-realitas yang memproduksi teks-teks tersebut.[1]

B. Rumusan Masalah

Untuk menjaga efektifitas pembahasan dalam makalah ini, maka penulis akan merumuskan masalah sebagai berikut :

A.       Apa pengertian sabab an-nuzul

B.       Apa hubungan sabab an-nuzul dengan ayat-ayat al-Qur’an

C.       Apa sabab al-nuzul yang kulli dan yang juz’i

D.       Apa urgensi memahami sabab an-nuzul

E.       Mengapa al-qur’an diturunkan secara bertahap (munajjam)

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Sabab An-Nuzul

Kata asbab an-nuzul menurut bahasa adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Meskipun segala fenomena yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu dapat disebut asbab an-nuzul, dalam pemakaiannya ungkapan asbab an-nuzul khusus dipergunakan untuk menyatakan sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya Al-Qur’an, seperti halnya asbab al-wurud secara khusus digunakan bagi sebab-sebab terjadinya Hadits.

Menurut Ibnu Shubhi dalam bukunya “Qur’an dan Hadits” dijelaskan bahwa pengertian asbab an-nuzul secara termenologi adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al-Qur’an, sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi.[2]

Sementara menurut Ash-Shabuni Asbab an-nuzul diartikan sebagai peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.[3]

Dari pengertian di atas dapat kita pahami bahwa asbab an-nuzul adalah peristiwa yang kerananya Qur’an diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.

B. Hubungan Sebab an-Nuzul dengan Ayat-ayat al-Qur’an

Agar kita lebih mudah memahami hubungan antara sabab an-Nuzul dengan ayat-ayat al-Qur’an, maka penulis merasa perlu mengutarakan sebuah contoh mengenai urutan-urutan fase penetapan hukum keharaman khamr. Dimana terdapat tiga ayat dalam Al-Qur’an yang menceritakan “kehalusan” hukum haramnya, yaitu: Surat Al Baqarah ayat 219, kemudian disusul dengan ayat lain yaitu dalam surat An Nisa’ ayat 43, dan yang terakhir adalah Surat Al Maaidah ayat 90-91. Di sinilah peranan penting Asbab an-nuzul, dimana untuk menentukan ayat yang mansukh harus diketahui dengan jelas urutan turunnya ayat-ayat tersebut.[4]

Dengan demikian, penetapan hukum keharaman tersebut tidak dapat dipaksakan secara gegabah dengan pijakan umum al-lafadz saja, karena apabila itu tetap diterapkan, maka tidak menutup kemungkinan ada pihak yang dengan sengaja memegang ayat pertama atau kedua untuk suatu kepentingan, dan ini akan menhancurkan tujuan yang sebenarnya dari diturunkannya hukum pengharaman tersebut (hikmah at-tasyri’).

Contoh di atas sebenarnya hanya untuk memberikan gambaran bahwa Selain pertimbangan umum al-lafadz lewat proses analogi, Asbab an-nuzul juga menunjukkan pada pertimbangan khusus as-sabab, karena tidak semua teks dapat dihadapi dengan pertimbangan “keumuman teks dan mengabaikan kekhususan sebab”. Dan bila ini dipaksakan, maka akan berakibat fatal pada pengakuan umum tentang hikmah at-tasyri’.

Di sisi inilah, korelasi yang sebenarnya antara fenomena Naskh dan konsep Asbab an-nuzul, sebagi perwujudan dari dialektika antara teks dan realita. Dimana ayat-ayat yang telah di-mansukh hukumnya tidak dapat lagi dipakai keumuman ungkapannya untuk kemudian digeneralisasikan dengan realita yang serupa dengannya.

C. Urgensi Memahami sebab an-Nuzul

Mengetahui asbab an-nuzul menurut Manna Khalil al-Qattan adalah cara terbaik untuk memahami makna al qur’an dan menyungkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab-sebab turunnya.[5]

Hal ini sejalan dengan pendapatnya Fazlur Rahman, bahwa Al-Qur’an sebagai puncak dari sebuah gunung es. Sembilan per sepuluh dari bagiannya terendam di bawah perairan sejarah dan hanya sepersepuluhnya yang dapat dilihat. Ia lebih lanjut menegaskan bahwa sebagian besar ayat Al-Qur’an sebenarnya mensyaratkan perlunya pemahaman terhadap situasi-situasi historis khusus, yang memperoleh solusi, komentar dan tanggapan dari Al-Qur’an.

Dari pendapat para pakar di atas kita dapat mengetahui bahwa Memahami Asbabu an-Nuzul sangatlah penting karena dapat menyingkap hubungan dialektika antara teks dengan realitas, dimana dalam konsep Asbabu an-Nuzul, turunnya teks dinilai sebagai “respon” atas realitas, baik dengan cara menguatkan ataupun menolak, dan menegaskan hubungan dialogis antara teks dengan realitas. Walaupun pada satu sisi, ada kalangan -– sebagaimana disinyalir Az-Zarqani dan As-Suyuthi — yang berpendapat bahwa mengetahui asbab an-nuzul merupakan hal yang sia-sia dalam memahami Al-Qur’an. Mereka beranggapan bahwa mencoba memahami Al-Qur’an dengan meletakkannya dalam konteks historis itu sama dengan membatasi pesan-pesannya pada ruang dan waktu tertentu. Namun, keberatan seperti ini tidaklah berdasar karena tidak mungkin menguniversalkan pesan AL-Qur’an di luar masa dan tempat pewahyuan, kecuali melalui pemahaman yang semestinya terhadap makna Al-Qur’an dalam konteks kesejarahannya.

D. Al-Qur’an Diturunkan secara Bertahap

Terkait dengan peristiwa turunnya al-Qur’an yang tidak sekaligus (berangsur-angsur) dan mempertimbangkan realitas dan sebab itu maka menimbulkan keusilan dikalangan pembantahnya yaitu kaum Musyriq karena mereka mempunyai konsep mengenai kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan secara lengkap dan terbukukan sebagaimana papan (lauh) milik Musa as.

Keusilan dimaksud tercermin dalam Pertanyaannnya yaitu; mengapa harus mempertimbangkan realitas dan sebab dalam menurunkan secara bertahap, padahal Allah Swt mengetahui seluruh realitas, global dan detilnya, sebelum realitas itu terjadi? Bila kemudian dinilai bahwa turun wahyu terikat dengan sebab, maka sama dengan menyatakan perbuatan Allah Swt terikat dengan ruang dan waktu. Kesimpulan ini mengandung unsur penghinaan terhadap “kekuasaan Tuhan” yang mutlak. padahal bukankah dalam jangkauan kekuasaan Allah Swt yang mutlak untuk menurunkan al-Qur’an sekaligus, bukankah Ia mampu untuk menjadikan Nabi Saw menghafal sekaligus?

Dalam Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa yang menjadi alasan utama adalah pertimbangan kondisi Nabi Saw sebagai “penerima pertama” wahyu sebagai proses komunikasi yang berat (inna sanulqi ‘alaika qaulan tsaqila). Sehingga membutuhkan proses yang yang bertahap agar mudah baginya untuk menghafal. Ini berbeda dengan Nabi-Nabi lainnya, sebab mereka dapat menulis dan membaca sehingga dimungkinkan bagi mereka untuk menghafalkan semuanya apabila diturunkan sekaligus.

Alasan lain juga kenapa al Qur’an tidak diturunkan sekaligus yaitu untuk menguatkan hati Rasul Saw. Sebab, bila wahyu turun dalam setiap peristiwa, ini akan lebih memantapkan hati dan lebih memberikan perhatian terhadap Rasul Saw.[6]

 


BAB III

PENUTUP

E. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1.        Definisi Qur’an secara bahasa adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Sedangkan secara termenologi asbab an-nuzul adalah peristiwa yang kerananya Qur’an diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.

2.        Korelasi yang sebenarnya antara fenomena Naskh dan konsep Asbab an-nuzul yaitu  sebagai perwujudan dari dialektika antara teks dan realita.

3.        Pentingnya memahami asbab an-nuzul adalah untuk menyingkap hubungan dialektika antara teks dengan realitas, dimana dalam konsep Asbabu an-Nuzul, turunnya teks dinilai sebagai “respon” atas realitas, baik dengan cara menguatkan ataupun menolak, dan menegaskan hubungan dialogis antara teks dengan realitas.

4.        Al-qur’an diturunkan secara berangsur-angsur karena Allah mempertimbangkan kondisi nabi yang tidak bisa membaca dan menulis sehingga dibutuhkan tahapan-tahapan dalam proses turunnya wahyu. Selain alasan itu juga untuk menguatkan hati nabi.

F. Saran-saran

Untuk memahami ayat-ayat dalam al Qur’an maka suatu keharusan bagi kita untuk memahami sebab-sebab yang menjadi perantara turunnya ayat tersebut. Karena bagaimanapun juga turunnya sebagian besar ayat dalam Qur’an – sebagaimana disinggung pada bagian pendahuluan – merupakan respon atas realitas yang terjadi mada masa itu. Seperti ayat al-qur’an tentang keharaman Khamr (misalnya), tidak menutup kemungkinan ada pihak yang dengan sengaja memegang ayat pertama atau kedua untuk suatu kepentingan karena mereka tidak tahu fenomina teks kaitannya dengan konteks dan ini akan menhancurkan tujuan yang sebenarnya dari diturunkannya hukum pengharaman tersebut.


[1] Ibnu Subhi. 2005. Qur’an dan Hadits Untuk kelas XII Madrasah Aliyah. Hal 123

[2] http:/www.detik.com/badawisdh/tnpm.html,diakses pada 04 November    2009, pukul 14.36 WIB

[3] Lihat al Qattan. Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Hal. 106

[4] Lihat al-Ithqan, juz: I, hlm. 27).

[5] Lihat Manna Khalil Al-Qattan. Studi Ilmu-ilmu  al-Qur’an. Hal. 112

[6] Prof. Dr. MM. Al A’zami. The History of The Qur’anic Text. Hal. 87

Categories: Uncategorized

BERHARAP KEPADA PESANTREN

Oleh Watir Pradhika

Kekerasan atas nama agama tampaknya tak pernah bosan menyapa Indonesia. Bom di Bali (2001/2002), penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah, teror terhadap  Kristen, teror terhadap kaum Syi’ah, dan masih banyak kasus serupa lainnya, tercatat sekitar 122 aksi kekerasan atas nama agama dalam dua tahun terakhir (Republika, 21/12/2010). Tak berhenti begitu saja, beberapa hari lalu, menyusul peristiwa pemboman berupa paket buku di beberapa tempat. Meski belum jelas motif dan pelakunya, namun sejumlah tokoh meyakini adanya motif ideologi keagamaan tertentu yang memicu tindakan itu.

Kenyataan di atas tentu sangat memprihatinkan. Saat bangsa kita berusaha bangkit menjadi bangsa yang diperhitungkan di mata internasional, kondisi dalam negeri masih carut-marut. Hanya berbeda paham dan keyakinan, sesama warga bertikai dan saling membunuh. Dan, negara, yang salah satu fungsinya adalah menjadi payung buat semua warga yang berbeda paham dan keyakinan, ternyata kerap kali dengan mudahnya terkooptasi oleh kelompok-kelompok berpaham keagamaan tertentu yang mengatasnamakan mayoritas.

Pertanyaannya, apakah sikap ekstrem dengan meledakkan bom atau jenis kekerasan lainnya, yang memakan korban sebagian besar adalah umat seagama dan sebangsa, dapat dibenarkan?

Tentu saja, secara otomatis kita akan menjawab bahwa tidak sepatutnya orang yang memahami ajaran agama dengan baik melakukan tindakan teror. Ia justru diturunkan demi kepentingan kemanusiaan itu sendiri, bukan sebaliknya. Itu sebanbya, jika di balik kedatangan Islam justru melahirkan kekerasan sudah pasti bukan Islam, tetapi itu hanya pemahaman sebagian orang terhadap Islam yang belum tentu diamini oleh sebagian muslim lainnya.

Problem pemahaman seperti di atas tak jarang dijumpai di lingkungan kita. Seakan-akan Islam identik dengan kekerasan, ancaman, dan lain-lain. Sehingga, Islam tampak begitu menakutkan di mata pemeluknya. Akibat dari pemahaman semacam ini, umat Islam cenderung hitam putih dan tertutup dalam memahami ajaran agama. Sehingga siapapun yang berbeda paham dan keyakinan harus ditumpahkan sebagaimana Tuhan mengancam dalam ayat-ayat-Nya.

Pemahaman yang tidak proporsional terhadap fungsi dan substansi agama memang bisa membuat fatal bagi penganutnya. Agama yang seharusnya menjadi payung yang memberikan kedamaian dan pencerahan bagi kehidupan manusia akan beralih fungsi menjadi sumber konflik dan kekerasan.

Berbicara tentang “pemahaman terhadap Islam”, tentu tidak lepas dari peran lembaga-lembaga keagamaan, seperti pesantren, di mana pemahaman itu diperoleh. Ada indikasi bahwa pemahaman seperti itu bisa saja berawal dari cara atau metode pengajaran agama yang memang perlu dibenahi dari lembaga-lembaga itu.

Kecurigaan semacam ini telah lama diperbincangkan oleh para tokoh Islam di ruang-ruang diskusi. Bahkan sejumlah lembaga telah melakukan penelitian terhadap lembaga-lembaga pesantren. Bagi mereka, pesantren memiliki tanggungjawab besar dan peran strategis dalam mengembangkan pendidikan Islam. Ini disebabkan karena pesantren merupakan lembaga pendidikan awal yang banyak mencetak agamawan dan intelektual muslim. Dan lembaga ini secara emosional dan kultural sangat erat kaitannya dengan masyarakat akar rumput.

Di tengah maraknya teror kekerasan atas nama agama, pesantren seringkali mendapat stigma sebagai salah satu pemicunya. Walaupun stigma ini tidak sepenuhnya benar, tetapi fakta menunjukkan bahwa sebagian pelaku teror itu ternyata jebolan pesantren.

Bom Bali menjadi awal tudingan umum pesantren sebagai sarang teroris yang mengesahkan aksi kekerasan atas nama agama. Penghuninya dicap ekslusif, dan tidak toleran. Syak wasangka ini marak sejak tertangkapnya Imam Samudra dan Amrozi cs, sebagai pelaku peledakan bom. Ironisnya, mereka ternyata jebolan pesantren. Wajar saja jika tudingan dialamatkan ke institusi ini. Islamphobia merebak, pesantren pun terstigmakan.

Pesantren Berwawasan Keindonesiaan

Tentu saja tudingan seperti di atas tidak bisa dialamatkan kepada pesantren secara umum, karena pada dasarnya tidak ada satu pun pesantren yang bertujuan mencetak alumninya menjadi teroris dan actor-aktor kekerasan lainnya di ranah publik atas nama Tuhan. Walaupun ada, mungkin hanya kasuistik yang tentu saja tidak bisa digeneralisasi.

Akan tetapi, paling tidak, tudingan ini akan menjadi semacam tantangan sekaligus PR bagi lembaga-lembaga pesantren untuk melakukan langkah-langkah dan rancangan baru terkait metode penyampaian ajaran agama yang lebih berorientasi kepada nilai-nilai lokal, tanpa kehilangan substansi dari agama itu sendiri. Sehingga kehadiran  pesantren ikut memberikan kontribusi bagi terwujudnya demokratisasi di Indonesia yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa ini.

Dalam kurun waktu yang cukup panjang, bangsa ini sebenarnya mempunyai sejarah gemilang tentang pesantren. Dulu, pesantren bisa bersatu dengan semua lini masyarakat dan budaya lokal. Kehadiran Islam tidak pernah bertujuan merusak budaya lokal yang sudah ada, ia justru berusaha melengkapi budaya itu dengan nilai-nilai Islam yang lebih substantif dan universal. Sehingga, budaya yang sebenarnya merupakan produk manusia tidak hanya bermakna bagi kehidupan di dunia tetapi juga bernilai bagi kehidupan akhirat. Dengan cara itu, mereka bisa hidup damai dalam kebhinnekaan. Bahkan, kemerdekaan Indonesia pun bisa terwujud tidak lepas dari peran pesantren ini.

Sejarah ini seharusnya menjadi rujukan bagi pesantren saat ini untuk memelihara warisan para pendahulu bangsa kita yaitu mengembangkan pengajaran Islam yang berwawasan keindonesiaan, sejenis Islam yang tidak terasing dari konteks dan budaya lokalitas kita, Indonesia yang plural ini. Di sinilah arti penting prinsip, menjaga masa lalu yang baik, dan mengambil hal-hal masa kini yang lebih baik. Khazanah masa lalu berupa keislaman yang berwawasan keindonesiaan sebagaimana diwariskan para pendahulu kita harus dijadikan sebagai modal untuk mempererat kebangsaan dan menjunjung tinggi kemanusiaan.

Untuk memenuhi harapan itu, pesantren harus berusaha merancang-bangun model-model pengajaran Islam alternatif yaitu pengajaran Islam yang mampu menterjemahkan teks-teks keagamaan yang otoritatif sesuai dengan konteks dan budaya lokalitasnya dengan tidak mengesampingkan faham keagamaan yang mempunyai orientasi pada kemanusiaan dan moralitas. Dengan cara itu, pesantren akan lebih peka terhadap kebutuhan-kebutuhan bangsa dan Negara kita terutama dalam upaya menekan gerakan Islam yang berbau kekerasan dan pada saat yang sama mempersempit semaksimal mungkin ruang gerak Islam radikal ini.

Oleh karena itu, posisi pesantren bukan semata-mata sebagai wadah transformasi doktrin dan ilmu-ilmu agama, tetapi juga berusaha dengan kreatif mempersatukan nilai-nilai keislaman yang universal itu dengan budaya lokal di mana Islam itu berdiri.

Itulah pesantren yang diharapkan oleh bangsa kita saat ini. Saat di mana Islam seringkali dikambinghitamkan oleh oknom-oknom tertentu untuk menyalurkan kepentingan-kepentingannya dengan melegitimasi kekerasan atas nama Tuhan. Sudah saatnya pesantren unjuk gigi, memerankan dirinya sebagai pembawa kedamaian untuk negeri ini.

Categories: Uncategorized

N I H I L I S M E; Posisi dan Urgensinya dalam Seluruh PemikiranNietzsche

March 8, 2011 1 comment

Oleh: Watir Pradhika


I. PENDAHULUAN (Sebuah Pengantar)

Kasar, Sinis, sarkatis, dan penuh kontroversi itulah sosok Nietzsche yang saya kenal. Membaca pemikirannya ibarat mendengar musik Rock yang penuh urakan, sangat kontras dengan pemikiran Kant dan Hegel, yang oleh St. Sunardi, digambarkan dengan musik klasik yang indah nan merdu (baca:nilai). Tapi, itulah ciri khas pemikirannya. Ia tidak pernah puas dengan kemapanan dan dogmatisme. Dia adalah orang pertama yang terang-terangan menyatakan bahwa “Tuhan sudah mati”, sebuah pernyataan yang lebih dari seorang ateis biasa.

Karena itu, ia sering dicemooh, ia dicap gila, ateis, dan lain sebagainya meskipun pada akhir hidupnya ia terus menyebut nama Tuhan dan begitu merindukannya. Gagasan ekstrem yang menstigmanya sebagai seorang ateis radikal adalah nihilisme. Hadirnya nihilisme dalam dunia filsafat menjadi semacam penyakit yang memporakporandakan bangunan logika filsafat Barat yang berhasil mengerangkeng “kebenaran” secara monolitik. Betapa tidak, seluruh tatanan kosmis yang diagungkan pada masa itu dipertanyakan kembali bahkan diredusir dalam ketakbermaknaan (atau dalam istilah St. Sunardi “Transevaluasi nilai”). Di tengah orang-orang yang sedang gandrung akan modernisme dengan kemajuan sebagai syahadat-nya, dia berteriak bahwa dunia ini bergerak tanpa kemajuan. Ketika orang-orang sedang mengagungkan rasio, Nietzsche melecehkan apa yang disebut dengan rasio.[1] Semua pernyataan itu lahir sebagai buah dari apa yang disebut nihilisme itu.

Begitu pentingnya filsafat nihilisme dalam pemikiran Nietzsche, maka ia selalu menjadi pijakan utama dalam seluruh pemikirannya. Filsafatnya tentang Kehendak untuk Berkuasa, kritik atas moralitas, Ubermensch, dan kematian Tuhan hanyalah merupakan buah dari apa yang disebut sebagai nihilisme itu. oleh karena itu, penulis dalam makalah ini akan mencoba menguraikan tentang pemikiran ini. Walaupun penulis sendiri kurang yakin apakah yang ditulis dalam makalah ini adalah gagasan Nietzsche yang sebenarnya, atau jangan-jangan hanyalah merupakan hasil pembacaan penulis yang keliru terhadap pemikirannya. Wallahu A’lam bi al-Showab!. Namun, satu hal yang tidak penulis ragukan adalah: Nietzsche melakukan meditasi filosofis tanpa mengenal lelah.

 

II. PEMBAHASAN

 

1. Pengertian Nihilisme & Kedatangannya

Nihilisme apabila dilihat dari bentuk kata kerjanya berarti meniadakan, membasmi, memusnahkan, menghapuskan, dan melenyapkan segala eksistensi. Terminology ini dipakai Nietzsche untuk menggambarkan bahwa apa saja yang dulu dianggap bernilai dan bermakna kini sudah mulai memudar dan menuju keruntuhan. Dunia ini terutama keberadaan manusia di dunia tidak memiliki tujuan.[2]

Renungan tentang nihilisme pada intinya adalah sebuah renungan tentang krisis kebudayaan , khususnya kebudayaan Eropa sebagaimana disaksikan oleh Nietzsche pada akhir abad lalu. Nietzsche melukiskan bahwa gerak kebudayaan Eropa pada waktu itu bagaikan aliran sungai yang menggeliat kuat saat mendekati bibir samudra. Metafor ini ditujukan pada orang-orang Eropa yang tidak sanggup lagi berpikir tentang dirinya. Inilah satu dari ratusan tanda dari kedatangan nihilisme. Jadi, nihilisme adalah semacam insight tentang apa yang hendak terjadi pada zaman sesudahnya, sebagaimana dalam aforismenya yang dikutip oleh St. Sunardi:[3]

 

What I relate is the history of the next two centuries. I describe what is coming, what can no longer come differently: the advent of nihilism. For some time now our whole European culture has been moving as toward a catastrophe, with a tortured tension that is growing from decade to decade: restlessly, violently, headlong, like a river that wants to reach the end.

 

Nihilisme ini timbul, di samping merupakan hasil perkembangan dari sejarah sebelumnya (dari abad pertengahan sampai abad modern), juga merupakan akibat dari timbulnya pemikiran-pemikiran Nietzsche yang menghantam sisa-sisa pemikiran dan kepercayaan sebelumnya. Dalam arti yang kedua ini, Nietzsche harus dipandang sebagai tokoh yang mempercepat proses nihilisme secara radikal.

Nihilisme sebagai runtuhnya nilai dan makna meliputi seluruh bidang kehidupan manusia yaitu nilai-nilai moral yang ditawarkan lewat institusi keagamaan (bersifat mutlak dan absolut) dan ilmu pengetahuan. Runtuhnya dua bidang ini membuat manusia kehilangan jaminan dan pegangan untuk memahami dunia dan hidupnya. Singkatnya, nihilismemengantarkan manusia pada situasi krisis atau kepada hari yang menjadi malam terus menerus karena seluruh kepastian hidupnya sudah runtuh.[4]

Demikianlah, seakan-akan manusia dibuat tidak berdaya dalam satu keyakinan absolut yang tanpa disadari justru mendistorsi manusia sebagai makhluk yang memiliki kehendak untuk berkuasa. Keberanian Nietzsche mewartakan nihilisme setidaknya memiliki dua implikasi tragis yaitu menghentikan gerak suksesi tradisi filsafat Barat yang memberi ruang gerak terbetuknya totalisasi atau universalisasi terhadap pembenaran. Dan juga tema nihilisme menjadi ungkapan profetis tentang suatu kondisi yang akan terjadi beberapa abad setelah Nietzsche di mana standar hidup yang sublim tidak lagi diperlukan.[5]

 

2. Nihilisme dalam “Tuhan sudah Mati”

Sebagaimana dijelaskan di atas, Gagasan tentang nihilisme ini sangat penting dalam pemikiran Nietzsche. Karena nihilisme inilah yang menjadi dasar bagi munculnya pernyataan tentang kematian Tuhan. Tidak heran jika tema nihilisme ini dalam beberapa bukunya, sebagaimana diterangkan juga dalam buku St. Sunardi, dibahas cukup mencolok dan menjadi dasar bagi seluruh aforismenya, terutama dalam buku Der Wille zur Macht (The Will to Power).[6] Dengan nihilisme, Nietzsche ingin melepaskan manusia dari candu nilai yang telah menjadi kuk bagi kelangsungan hidup manusia dalam rangka membermaknai dirinya. Hidup menjadi bermakna ketika berada dalam ketiadaan nilai atau makna.

Nietzsche meramalkan bahwa gerak sejarah akan mengarah pada suatu bentuk nihilisme yang radikal. Nihilisme kemudian berujung pada pernyataan yang berbunyi “Tuhan sudah Mati”, bahkan “Tuhan-tuhan Sudah mati”. Secara sempit, yang dimaksud dengan matinya Tuhan adalahruntuhnya jaminan absolute yaitu Tuhan, yang merupakan sumber pemaknaan hidup dan hidup manusia. Situasi ini oleh Nietzsche disebut dengan nihilisme. Namu sebenarnya, Tuhan dalam pengertiannya lebih luas dari pada pengertian sebagaimana doipahami oleh kebanyakan orang. Baginya Tuhan hanyalah suatu model untuk menunjuk setiap bentuk jaminan kepastian untuk hidup dan manusia. Oleh karena itu, walaupun orang sudah membunuh Tuhan, orang belum tentu tidak menghidupkan bentuk-bentuk Tuhan baru lainnya. Model-model Tuhan baru itu adalah Ilmu Pengetahuan, idea, kepastian akan kemajuan, dan lain-lain. semua itu adalah pulau-pulau baru bagi orang yang takut berlayar, setelah benuanya dihancurkan oleh samudera.

Kematian Tuhan (God is Dead) adalah sebuah pilihan hidup yang tak perlu diratapi. Kita berhak menentukan pilihan–Tuhan kita bunuh beramai-ramai atau kita membiarkannya hidup?–Jika Tuhan mati, maka kita benar-benar memahami eksistensi diri sebagai manusia yang unggul, namun sebaliknya dengan membiarkan Tuhan berarti kitapun membiarkan eksistensi atau kemampuan vital kita dilucuti dan akhirnya kita menjadi tawan moral tanpa bisa melalukan perlawanan sedikitpun.

Dengan terbunuhnya Tuhan, berakhirlah semua nilai absolut dan manusia memasuki wilayah territorial yang tak bertuan. Dalam salah satu karya monumentalnya Twilight of the Idols and Anti-Christ, Nietzsche menaruh kecurigaan terhadap para filsuf pasca sokrates khususnya Plato yang telah menyihir pemikiran filsuf-filsuf sesudahnya dengan gagasan transcendentalnya yang bermuara pada pembentukan pandangan metafisika Barat yang kemudian dibungkus dalam tradisi kristenitas.[7]

Menurut Plato dunia terbagi menjadi dua: dunia inderawi dan dunia idea. Dalam dunia inderawi manusia hanya mengenal pendapat sedangkan dalam dunia idea pengenalan manusia memasuki unsur ideal–episteme (pengetahuan) – kepastian dan kesahihan sebuah kebenaran hanya besemayam dalam dunia idea atau episteme. Dan pencapaian terhadap dunia idea hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang telah memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan (para filsuf). Asumsi ini mendorong manusia berupaya memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan demi menemukan absolutsitas yang bertengger dalam dunia idea.

Salah satu filsuf yang memperkuat doktrin Plato adalah Kant. Distingsi atas fenomena dan nomena[8] menyisakan persoalan pelik yang membawa manusia dalam sebuah ilusi tak bertepi. Kant mengatakan bahwa hakikat sebuah realitas berada dalam dunia noumena. Fenomena hanya menampilkan objek dalam dimensi-dimensi yang terbatas tanpa bisa menghadirkan benda dalam kebendaannya (das Ding an sich).

Doktrin semacam ini membuat Nietzsche menjadi geram, pasalnya pengetahuan tidak sekadar bersembunyi dalam dunia metafisis tetapi nampak dalam keseharian. Yang disebut riil adalah apa yang nampak/kelihatan dan juga bisa dianalisa melalui kesadaran inderawi manusia tanpa harus bertarak menyingkap objek sesungguhnya yang bersembunyi di belakang semua objek inderawi. Manusia didorong untuk mencari sesuatu yang riil di balik relaitas inderawi. Karena dunia dengan segala fenomenanya bersifat fana dan tidak bernilai apa-apa; kualitas hidup yang sesungguhnya bersemayam di belakang fenomena.

Agama Kristen masa itu telah menjadikan penghuni Eropa hidup dalam situasi hipokrit. Mengapa? Kristenitas mewarisi gagasan Plato dengan mengajarkan bahwa hidup yang sebenarnya bukan berada di dunia ini, dunia hanyalah persinggahan yang penuh dengan kebobrokan akibat dosa dan sekarang ini seluruh umat manusia mengalami pesakitan seperti layaknya seorang perempuan yang sedang bersalin. Untuk keluar dari polemik tersebut manusia memerlukan jaminan keselamatan sebagai nilai-nilai luhur yang akan mengarahkan ke dunia atas (baca: surga). Karenanya sikap terbaik yang perlu dilakukan manusia beragama: fatal strategy yaitu pasrah pada semua ketentuan absolut/Tuhan yang tergurat dalam kitab suci. Bagi Nietzsche hal tersebut adalah super TOLOL/GOBLOK tak bertepi: manusia telah ditipu daya melalui bahasa-bahasa dogmatis agar menggaransikan hidupnya hanya pada kekuatan absolut.

Terobosan radikal Nietzsche mengobrak-abrik hakikat kekristenan ini menyebabkan kebencian kaum agamawan terhadap Nietzsche bahkan hingga saat ini karena konsepnya menjadi ancaman besar bagi stabilitas kehidupan umat beragama (apapun agamanya). Agama tidak lain adalah sebuah strategi untuk menghilangkan sengat manusia, sehingga melaluinya manusia digiring untuk menegasi realitas inderawi. Jadi dalam perspektif agama gagasan nihilisme adalah runtuhnya nilai-nilai absolut di mana Tuhan tidak lagi berperan sebagai sumber dari semua aturan moral dan teologi.

 

3. Nihilisme dalam Moralitas

 

Selain itu, problem moralitas dalam agama Kristen juga menyedot perhatian Nietzsche. lagi-lagi tradisi Platonik yang kemudian diperkuat oleh Immanuel Kant membuat mentalitas masyarakat Eropa menjadi buruk. Menurut Nietzsche, Kant dalam kritik der Praktische Vernunft mendasarkan moralitas pada nilai-nilai/ sanksi-sanksi ilahi yang bermuara pada meleburnya filsafat ke dalam wilayah agama. Pandangan ini dibangun atas dasar teorinya tentang rasio praktis.yang menunjukkan adanya impratif kategoris dan atas dasar ketiga postulatnya: kebebasan kehendak, imortalitas jiwa dan keberadaan Tuhan.[9]

Kritik Nietzsche terhadap persoalan moral terurai melalui ilustrasi mengenai pembedaan antara moralitas tuan dan moralitas budak. Moralitas tuan diasumsikan sebagai moralitas luhur dan terhormat di mana baik atau buruk bukan ditentukan bersadarkan perilaku melainkan siapa yang berada di balik semua perilaku itu. Selain itu moralitas tuan mengklaim dirinya sebagai sosok yang berdaulat, berkuasa dan ningrat yang segala tindaknnya selalu baik walaupun kenyataannya buruk. Sedangkan tindakan moralitas budak merupakan ingkaran dari moralitas tuan yang kebebasannya dikebiri demi memperkenankan diri kepada tuannya. Karena itu sikap yang perlu dikembangkan adalah kelemah-lembutan, simpati, kerendah-hatian dan lain-lain yang dikategorikan sebagai perbuatan baik menurut perspektif Herdenmoral.[10]

Namun sesungguhnya moralitas jenis ini berambisi menguasai moralitas tuannya meskipun hanya sebatas imajinasi. Mereka sebenarnya mampu mengekpresikan vitalitasnya untuk memberontak kepada moralitas tuan. Moralitas budak ini secara terlihat secara jelas pada masyarakat Kristen-Eropa di mana daya vital manusia harus ditundukan sampai tercipta sikap hidup rendah hati, lemah lembut dan lain-lain. Agama Kristen tidak memiliki keberanian melakukan konversi menjadi moralitas tuan. Justru sebisa mungkin potensi manusia dibelenggu sehingga tidak menggangu stabilitas kehidupan sosial yang selama ini tertata rapi dalam sebuah tradisi platonik.

 

4. Nihilisme dalam gagasannya tentang Ubermensch

 

Melalui pengenasian atas segala bentuk eksistensi jaminan absolut, maka lahirlah manusia unggul yang mampu mencintai nasib dan dunia. Alegori tentang Übermensch secara implisit berasal dari daya cipta estetis Dionysian yang dalam perspektif Nietzsche memberi ruang gerak bagi suksesi kegilaan. Secara eksistensial Übermensch adalah cara bagaimana manusia memberi makna terhadap kekosongan makna bagi dirinya sendiri bahwa hidup ini nihil dengan tanpa memberi celah sedikitpun pada intervensi nilai adikodrati.[11] Berkaitan dengan hal tersebut Zarathustra berfirman:

“Behold, I teach you the overman. The overman is the meaning of the earth. Let your will say: the overman shall be the meaning of the earth! I beseech you, my brothers, remain faithful to the earth, and do not believe those who speak to you of otherworldly hopes! Poison-mixer are they, whether they know it or not. Despisers of life are they, decaying and poisoned themselves, of whom the earth is weary: so let them go.”

Übermensch adalah makna dunia ini yang mengajarkan kepada kita agar tidak mempercayai omong kosong yang mengajarkan berbagai harapan di balik dunia ini. Nietzsche menyebut para pembual itu sebagai para penyebar racun yang melecehkan kehidupan. Übermensch adalah sisi eksistensial manusia yang paling penting karena di dalamnya manusia didorong untuk mengoptimalkan seluruh potensi diri dalam menghadapi perhelatan hidup yang pada akhirnya ia menyatakan dengan kesadaran diri bahwa nasib hidup perlu kita cintai.

Inilah keutamaan manusia dipulihkan, tak sekedar terombang-ambing dalam ketidakpastian yang terus diratapi sebagai takdir dan memenjara, melainkan manusia bebas-merdeka yang teguh karena ia sadar dan paham akan arti kehidupan. Jadi secara sederhana spirit nihilisme Nietzsche merupakan bentuk protes atas segala sesuatu yang dianggap bernilai/bermakna yaitu Tuhan sebagai kekuatan adikodrati yang mengatur perilaku manusia. Dengan kata lain nihilisme adalah hasil yang tak terelakan dari seluruh gerak sejarah umat manusia yang sebelumnya selalu dibayang-bayangi oleh gagasan ketuhanan.

 

III. PENUTUP (Sebuah Refleksi Singkat)

Demikianlah, bukan asal bunyi dia terang-terangan menyatakan bahwa “Tuhan sudah mati”. Seperti sudah kita baca, justru dia begitu punya argumentasi kuat dengan pernyataan itu, yaitu apa yang kita kenal dengan nihilisme. Gagasannya tentang nihilisme ini yang kemudian tercermin tidak hanya dalam keseluruhan pemikiran selanjutnya, tetapi juga tercermin dalam gaya tulisannya yang kelihatan kacau dan tidak sistematis. Semua itu menggambarkan sosoknya yang mencela kemapanan dan dogmatisme.

Tidak hanya itu, dia bahkan tidak percaya bahwa ada kebenaran yang absolute. Kebenaran adalah ilusi. Kebenaran, begitu ia katakan, adalah semacam kekeliruan yang tanpanya sejenis makhluk tak dapat hidup. Sehingga, jangan pernah mencari kebenaran, karena kehendak untuk mencari kebenaran, bagi Nietzsche, adalah ekspresi ketakutan akan keyataan hidup.

Berkenalan dengan pemikiran Nietzsche lewat buku St Sunardi dan Frenky ini seakan-akan saya ditawarkan sebuah kesempatan dan peluang untuk ikut serta dalam suatu penjelajahan yang mengguncang, menjebol batas, menemui malam, memasuki sebuah gelora yang merangsang, karena lewat pemikirannya saya senantiasa sering dikejutkan oleh tendensinya, yakni bahaya. Nietzsche sendiri mengatakan apa yang akan kita alami dalam arung itu. ia menulis dalam suatu aforismenya:

 

……kita sudah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang-dan lagi, kita sudah mengapuskan daratan dibelakang kita. 1 dan kini, hati-hatilah kau kapal mungil! Samudera yang mengelilingimu……….

 

Sepintas pernyataan di atas seperti agak berlebihan, tapi yang jelas, ini bukan suara dari orang yang putus asa setelah ia mengatakan bahwa kebenaran adalah ilusi. Yang terbersit dari kalimat-kalimat itu justru sebuah isbat kepada hidup dengan segala rindu yang tak sampai, rumah yang tak pernah tegak, petaka yang tak putus. Wallahu A’lam


[1] Lihat St. Sunardi, Nietzsche: Gagasan tentang Kehendak untuk Berkuasa, (Yogyakarta: LKiS, 2006), dalam pengantarnya. Hal. xiii

[2] Pengertian ini dikutip dari paper “Filsafat Sejarah” yang ditulis oleh Dr. Oemar Familik

[3] St. Sunardi, NIETZSCHE, (Yogyakarta:LKiS,2006), hal. 33

[4] F. Budi Hardiman, Filsafat Barat Modern, (Jakarta:PT Gramedia,2007), hal. 281

[5] Hikmah Zaratustra (terjemahannya diterbitkan oleh PT. Bentang)

[6] St. Sunardi, Nietzsche, (Yogyakarta: LKiS, 2006), hal. 31

[7] Nietzsche, Twilight Idols and. Anti-Christs, terjemahannya oleh Hartoko Hadikusumo dengan judul “Nietzsche: Senjakalan Berhala dan Anti-Krits (Yogyakarta: Bentang,2002), hal 31-40

[8] Lihat  F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Macheavelli sampai Nietzsche, (Jakarta:PT Gramedia) hal. 138

[9] St. Sunardi, NIETZSCHE: Kehendak untuk Berkuasa, (Yogyakarta: LKiS), hal. 23

[10] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Macheavelli sampai Nietzsche, (Jakarta:PT Gramedia) hal. 268

[11] Ibid, hal . 154

Categories: Uncategorized

BUMI MANUSIA; Sebuah Refleksi

Judul Buku: Bumi Manusia

Penulis Buku: Pramoedya Ananta Toer

Diterbitkan oleh: Lentera Dipantara

Cetakan : 14, Juni 2009

Tebal: 535 halaman

Diresensi oleh: Watir Pradhika

PRAM, begitu orang memanggil namanya, adalah sebuah nama yang tak asing terdengar di telinga kita. Nama lengkapnya adalah Pramoedya Ananta Toer. Beliau adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam Daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra. Dari keseluruhan waktu hidupnya, sekian banyak telah beliau habiskan di dalam penjara karena tuduhan keterlibatan dalam G30S PKI. Meskipun telah diperlakukan demikian oleh bangsanya sendiri, beliau tetap menunjukkan bahwa kebebasan manusia takkan pernah terampas hanya karena tubuh ini dikungkung dan dipenjara. Semua itu terbukti lewat karyanya yang satu ini. Luka dia jadikan kata, kegelisahannya dia terjemahkan dalam goresan tinta. Lewat tulisannya ini seakan-akan dia ingin menyuarakan bahwa menulis adalah tugas pribadi yang mulia untuk negara dan bangsa!

Karya-karya dan prestasi beliau yang tidak mungkin saya tuliskan semuanya dalam refleksi singkat ini, telah berhasil menunjukkan kompetensinya dalam dunia sastra. Saya, penulis, adalah salah seorang yang membuktikan kemulusan karya agung itu. Aku pun merasa tersihir oleh pemikiran dan gaya bahasanya yang memikat pada lembar-lembar pertama.

Meskipun saya cukup jarang membaca novel, apalagi sebuah roman, suatu daya tarik yang telah dilancarkan novel ini adalah tentang temanya “BUMI MANUSIA”. Entahlah, apakah karena judulnya yang mengandung kata “manusia” atau karena nama pengarangnya yang telah bergaung egitu hebatnya, ternyata saya merasa cukup yakin untuk menyatakan bahwa waktu yang telah saya relakan demi menyelesaikan buku ini tidak sia-sia.

 

Sungguh sulit menemukan karya-karya yang sejenis dengan Bumi Manusia. Pramoedya telah berhasil membawa pembacanya dengan mesin waktu menuju masa lalu melalui suasana cerita yang benar-benar nyata. Hingga saat ini, menurut saya hanya ada sebuah karya yang teknik pembawaan suasananya agak serupa dengan Bumi Manusia yaitu The Alchemist oleh Michael Scott yang pernah kubaca lewat buku terjemahannya 2 (dua) tahun yang lalu. Perbedaannya adalah unsur fiksi yang begitu terlihat dalam novel Scott, sedangkan Bumi Manusia membawa suasana nyata seperti perasaan hidup di dalamnya.

 

Manusia, terlebih lagi jika berbicara tentang budaya, mengandung arti yang sangat luas. Masyarakat yang tercermin di dalamnya, juga peradaban manusia secara keseluruhan. Dengan  membaca suatu budaya, kita dapat merasakan peradaban tersebut dan perkembangan pola pikir manusia dari masa ke masa.

 

Karya paling monumental ini adalah gerbang dari tetralogi, suatu karya Pramoedya Ananta Toer periode masa pembuangan di pulau Buru. Dalam novel ini, Pramoedya dengan indah menceritakan penderitaan kaum pribumi di bawah kolonialisme Belanda di Jawa pada akhir abad 19 dan awal abad 20. Dengan mengambil setting cerita Wonokromo, dekat Surabaya di Jawa Timur pada masa awal 1900, masa di mana mulai tumbuhnya nasionalisme dan patriotisme di Hindia Belanda. Bangkitnya kesadaran berbangsa yang coba mencari kembali jati dirinya dari bangsa terjajah yang tidak memiliki kedaulatan dan kemerdekaan menjadi sebuah bangsa yang sadar untuk mempertahankan hak suci yang diperoleh dari Tuhan sebagi manusia dan sebuah bangsa.

Salah satu ciri khas Pramoedya adalah pemikirannya, selain kata-kata Melayu atau Belanda yang terkadang disisipkan di dalam cerita. Pemikiran Pramoedya inilah yang menjadi ujung tombaknya untuk membelah pemikiran global dengan cara yang cerdas dan memikat. Tidak hanya untuk masa itu, namun pemikiran-pemikiran ini juga dapat dijadikan tolak ukur dan pembelajaran untuk masa sekarang bahkan juga pada masa-masa yang akan datang. Sebelum melangkah lebih lanjut mengenai hal ini, ada baiknya jika kita mengetahui sedikit alur luar dari novel ini.

Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang tokoh bernama Minke (hal. 1). Minke, yang nama aslinya T.A.S., adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS. Pada masa itu, yang dapat masuk ke sekolah HBS adalah orang-orang keturunan Eropa. Minke adalah seorang pribumi yang pandai, ia sangat pandai menulis. Tulisannya bisa membuat orang sampai terkagum-kagum dan dimuat di berbagai Koran Belanda pada saat itu. Sebagai seorang pribumi, ia kurang disukai oleh siswa-siswi Eropa lainnya. Minke digambarkan sebagai seorang revolusioner di buku ini. Ia berani melawan ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ia juga berani memberontak terhadap kebudayaan Jawa, yang membuatnya selalu dibawah.

Selain tokoh Minke, buku ini juga menggambarkan seorang “Nyai” yang bernama Nyai Ontosoroh. Nyai pada saat itu dianggap sebagai perempuan yang tidak memiliki norma kesusilaan karena statusnya sebagai istri simpanan. Statusnya sebagai seorang Nyai telah membuatnya sangat menderita, karena ia tidak memiliki hak asasi manusia yang sepantasnya. Tetapi, yang menariknya adalah Nyai Ontosoroh sadar akan kondisi tersebut sehingga dia berusaha keras dengan terus-menerus belajar, agar dapat diakui sebagai seorang manusia. Nyai Ontosoroh berpendapat, untuk melawan penghinaan, kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya hanyalah dengan belajar. Mingke juga menjalin asmara dan akhirnya menikah dengan Anneliesse, anak dari Nyai Ontosoroh dan tuan Millema.

Melalui buku ini, Pram menggambarkan bagaimana keadaan pemerintahan kolonialisme Belanda pada saat itu secara hidup. Pram, menunjukan betapa pentingnya belajar. Dengan belajar, dapat mengubah nasib. Seperti di dalam buku ini, Nyai yang tidak bersekolah, dapat menjadi seorang guru yang hebat bagi siswa HBS dan Minke. Bahkan pengetahuan si nyai itu, yang didapat dari pengalaman, dari buku-buku, dan dari kehidupan sehari-hari, ternyata lebih luas dari guru-guru sekolah HBS.

Minke, seorang Jawa, Pribumi sekaligus Raden Mas, menemukan pola pikir dan prinsip hidup yang berbeda dengan bangsanya sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh pendidikan H.B.S. yang ditempuhnya, di mana pemikiran bangsa Eropa telah merasuk ke dalam pemikirannya sendiri. Melalui temannya, Robert Suurhof, ia dapat berkenalan dengan seorang gadis yang cantiknya luar biasa, namanya adalah Annelies.

Sejak mengenal keluarga Nyai Ontosoroh, ibu Annelies, Minke mendapati dirinya di tengah beragam problema kehidupan yang menyerang tanpa belas kasihan. Sempat terpikir di dalam benak Minke untuk melarikan diri, namun akhirnya ia sadar akan rasa cintanya yang mampu membuat dirinya bertahan.

Problema kehidupan yang menyerangnya, bukanlah masalah biasa. Juga terkandung di dalamnya masalah sosial dan budaya. Bagaimana seseorang dengan tubuh Jawa dan pemikiran Eropa akan mengatasi masalah-masalah kehidupan yang begitu rumit? Kini kita tidak hanya berbicara tentang Minke dan masyarakat di sekitarnya, kita telah berbicara tentang masalah antar bangsa, juga peralihannya yang ternyata masih berlanjut hingga sekarang, dan selama-lamanya.

Mari berbicara tentang budaya manusia. Melalui alur luar novel yang ditampakkan secara eksplisit, Pramoedya nampaknya juga menyelipkan sesuatu yang penting tentang budaya dan perjalanan pola pikir manusia. Dengan pendidikan Eropa, Minke telah melupakan dan bahkan menolak budaya tradisional yang sering dikaitkan dengan statusnya sebagai seorang Jawa Pribumi, terlebih sebagai seorang Raden Mas.

Hal ini juga mempengaruhi tindakannya, seperti keberaniannya untuk tinggal di rumah seorang gundik, Nyai Ontosoroh. Kebanyakan dari masyarakat langsung menghubungkan hal tersebut dengan hal yang tidak-tidak dan itulah ciri utama rendahnya suatu nilai moral masyarakat itu sendiri. Hanya seorang yang kotor dapat menuding dan menuduh kekotoran orang lain karena ia telah tahu bagaimana kotornya untuk menjadi kotor, seperti itulah perbandingannya.

Hingga di tahap ini, baru ada pertentangan antara pemikiran Eropa dan tradisional. Pemikiran Eropa memang terkesan jauh lebih modern, namun ternyata alur novel mengarahkan kita kepada suatu konflik yang lebih besar, pertentangan unsur Eropa itu sendiri. Jika sebelumnya unsur Eropa lebih mengarah kepada suatu yang benar haruslah dipertahankan, keadaan berbalik saat Minke sendiri mengalami kekejaman Eropa yang tidak manusiawi. Pertentangan prinsip hidup inilah yang harus diperhatikan karena berpotensi mengakibatkan kekecewaan yang mendalam.

Pram dalam novel ini berhasil menunjukkan kejahatan kolonialisme seperti : diskriminasi ras, hukum yang kejam dan tidak adil, egois, tidak manusiawi, buta terhadap realitas sosial, tidak bermoral. Monogami juga tidak selalu lebih baik daripada poligami. Karena monogami juga hak hak Nyai diinjak injak. Kalau mereka penganut poligami maka hak hak Nyai akan dilindungi. Paling tidak dia akan diakui sebagai seorang istri.

Melalui Bumi Manusia, sesungguhnya kita dapat melihat bumi dari manusia-manusia yang selama ini begitu dekat dengan kita dan bahkan kita sendiri adalah manusia. Kita dapat mengerti dan memahami alur perkembangan budaya yang disajikan dengan begitu menarik. Ia juga menyajikan beragam pertentangan antara pemikiran yang satu dengan yang lain, begitu cerdasnya hingga tanpa sadar api nasionalisme kita telah disulut agar berkobar.

Di tengah perkembangan budaya yang hanya mengarah pada perkembangan teknologi serta perkembangan pola pikir yang tidak terlalu signifikan, buku ini sangat tepat dibaca siapa pun yang ingin mengenal manusia, lebih-lebih dirinya sendiri.

Categories: Uncategorized

BEASISWA ATAU SEKS BEBAS?

March 3, 2011 1 comment

Oleh Watir Pradhika

M

itos bahwa pendidikan tinggi hanya dimiliki oleh pemilik modal (kaum kapitalis) kini perlahan dihancurkan oleh semakin tingginya tingkat kesadaran manusia untuk merebut peluang-peluang masa depan. Hal ini ditandai oleh semakin banyaknya anak-anak muda tak terkecuali mereka yang hidup di desa-desa yang berlomba-lomba mununtut ilmu sampai ke perguruan tinggi. Intinya,  pendidikan yang dulu terkesan elitis kini sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan dinikmati oleh sebagian besar orang, termasuk mereka yang berlatar belakang ekonomi menengah ke bawah.

Namun patut diakui, Pergeseran paradigma ini lambat laun menjadi persoalan tersendiri dalam dunia pendidikan kita. Saat ini, pelajar sering dihadapkan pada posisi yang serba sulit. Pada satu sisi para pelajar menjadi harapan bangsa dan negara dengan berbagai tuntutannya, namun disisi lain mereka menjadi objek yang termarjinalkan bahkan seringkali menjadi pusat tuduhan. Di samping itu, pelajar merasakan tuntutan hidup yang semakin kompleks dan tidak ringan. Belum lagi mereka harus menanggung biaya pendidikan yang memang tidak murah. Akibatnya mereka harus melakukan banyak hal untuk memenuhi dua kebutuhan itu. Intinya di satu sisi mereka berhadapan dengan banyak teori atau idealisme, tetapi disisi lain berhadapan dengan banyak kenyataan yang tidak sesuai dengan idealisme dan nalarnya.

Akhir-akhir ini kita sering mendengar pelajar narkoba, pelajar seks bebas/free sex, pelajar tawuran, dan lain sebagainya. Tentu semua itu terjadi disebabkan oleh banyak factor. Tarik menarik antara tuntutan untuk berpendidikan dengan kondisi perekonomian yang tidak merata juga bisa menjadi factor di samping factor-faktor lainnya. Salah satu contohnya misalnya dalam kasus pelajar seks bebas di beberapa negara, termasuk juga di Indonesia, yang sebagaian besarnya adalah karena kedua tuntutan itu tidak seimbang.

Terlalu banyak fakta yang bisa kita amati dilapangan. Akhir-akhir ini, misalnya, Seorang calon dokter muda menjual keberawanannya melalui situs eBay. Dan berhasil. Ia rela menjual keperawanannya selain untuk membantu biaya kuliah juga ingin meringankan beban orang tuanya.   Keperawanan gadis berusia 18 tahun itu dijual hingga Rp2,85 miliar. Sebuah nominal yang fantastis.

Kasus yang sama juga sering terjadi di Indonesia. Salah satunya dilakukan seorang pelajar di Jakarta. Meski berparas cantik, seorang wanita asal Tanjung Priuk rela menjual keperawanannya untuk membayar uang masuk kuliah.

Memang, berpendidikan tanpa didukung dengan kondisi ekonomi yang memadai akan menjadi problem tersendiri bagi proses belajar anak. Seperti contoh di atas, mereka rela menjual diri demi memperjuangkan pendidikannya. Sebuah tujuan yang sangat mulya tapi harus ditempuh dengan cara-cara yang naïf.  Tentu saja ini merupakan tuntutan bagi semua pihak terutama pemerintah untuk terus melakukan terobosan-terobosan baru guna menopang keseimbangan kedua tuntutan itu. Karena bagaimanapun juga mereka adalah generasi yang akan melanjutkan perjuangan bangsa dan negara.

Apalagi saat ini perguruan tinggi tidak hanya menjadi lahan untuk pengembangan ilmu tapi juga sebagai lahan bisnis. Kita lihat, misalnya, diterapkannya BHP (Badan Hukum Pendidikan) pada sistem perguruan tinggi. Dimana perguruan tinggi dituntut untuk bisa dikelola secara mandiri tanpa campur tangan pemerintah. Sehingga masing-masing perguruan tinggi harus melakukan upaya-upaya pengelolaan dengan sistem bisnis yang modern guna menopang kebutuhan-kebutuhannya. Tentu ini akan berakibat pada semakin mahalnya biaya pendidikan. Sehingga jika tidak ada upaya-upaya baru baik dari pemerintah ataupun dari pihak kampus, maka tidak dipungkiri akan banyak anak muda yang tidak mendapatkan pendidikan, atau justru pendidikan bisa diraih tapi harus dilalui dengan cara-cara yang naïf seperti contoh di atas.

Oleh karena itu, pemerintah harus mencanangkan program-program baru bagi pendidikan kita. Paling tidak ada dua hal yang harus dijawab oleh pemerintah, melakukan pemerataan ekonomi atau mencanangkan beasiswa dan pendidikan yang murah bagi anak-anak muda berprestasi?. Dengan demikian kita akan melihat betapa banyak anak-anak muda yang terselamatkan. Wallahu a’lam

Categories: Uncategorized

Hello world!

March 3, 2011 1 comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories: Uncategorized