Home > Uncategorized > Sebab-sebab Turunnya Alqur’an

Sebab-sebab Turunnya Alqur’an

Oleh Watir Pradhika

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagaimana kita ketahui bahwa al-Qur’an adalah sejenis kumpulan tulisan dalam satu mushaf namun ia tidak merupakan buku dalam pengertian pada umumnya,  karena ia tidak pernah  diformulasikan, tetapi diwahyukan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan situasi yang menuntutnya. Al-Qur’an sendiri sangat menyadari kenyataan ini sebagai sesuatu yang akan menimbulkan keusilan di kalangan pembantahnya. Seperti yang diyakini sampai sekarang, pewahyuan Al-Qur’an secara total dan secara sekaligus itu tidak mungkin karena Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi kaum muslimin secara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada.

Al-Qur’an Diturunkan secara berangsur-angsur selama lebih dari dua puluh tahun. Teks juga menegaskan bahwa sebagian besar ayat dalam Qur’an turun terkait dengan sebab-sebab tertentu, sangat sedikit ayat yang diturunkan tanpa ada sebab eksternal. Ulama al-Qur’an memandang bahwa bingkai realitas melalui mana ayat atau beberapa ayat dapat dipahami, ditentukan oleh sebab atau munasabah tertentu. Atau dengan kata lain, ulama menyadari bahwa kemampuan mufassir untuk memahami makna teks harus didahului dengan pengetahuan tentang realitas-realitas yang memproduksi teks-teks tersebut.[1]

B. Rumusan Masalah

Untuk menjaga efektifitas pembahasan dalam makalah ini, maka penulis akan merumuskan masalah sebagai berikut :

A.       Apa pengertian sabab an-nuzul

B.       Apa hubungan sabab an-nuzul dengan ayat-ayat al-Qur’an

C.       Apa sabab al-nuzul yang kulli dan yang juz’i

D.       Apa urgensi memahami sabab an-nuzul

E.       Mengapa al-qur’an diturunkan secara bertahap (munajjam)

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Sabab An-Nuzul

Kata asbab an-nuzul menurut bahasa adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Meskipun segala fenomena yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu dapat disebut asbab an-nuzul, dalam pemakaiannya ungkapan asbab an-nuzul khusus dipergunakan untuk menyatakan sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya Al-Qur’an, seperti halnya asbab al-wurud secara khusus digunakan bagi sebab-sebab terjadinya Hadits.

Menurut Ibnu Shubhi dalam bukunya “Qur’an dan Hadits” dijelaskan bahwa pengertian asbab an-nuzul secara termenologi adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al-Qur’an, sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi.[2]

Sementara menurut Ash-Shabuni Asbab an-nuzul diartikan sebagai peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.[3]

Dari pengertian di atas dapat kita pahami bahwa asbab an-nuzul adalah peristiwa yang kerananya Qur’an diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.

B. Hubungan Sebab an-Nuzul dengan Ayat-ayat al-Qur’an

Agar kita lebih mudah memahami hubungan antara sabab an-Nuzul dengan ayat-ayat al-Qur’an, maka penulis merasa perlu mengutarakan sebuah contoh mengenai urutan-urutan fase penetapan hukum keharaman khamr. Dimana terdapat tiga ayat dalam Al-Qur’an yang menceritakan “kehalusan” hukum haramnya, yaitu: Surat Al Baqarah ayat 219, kemudian disusul dengan ayat lain yaitu dalam surat An Nisa’ ayat 43, dan yang terakhir adalah Surat Al Maaidah ayat 90-91. Di sinilah peranan penting Asbab an-nuzul, dimana untuk menentukan ayat yang mansukh harus diketahui dengan jelas urutan turunnya ayat-ayat tersebut.[4]

Dengan demikian, penetapan hukum keharaman tersebut tidak dapat dipaksakan secara gegabah dengan pijakan umum al-lafadz saja, karena apabila itu tetap diterapkan, maka tidak menutup kemungkinan ada pihak yang dengan sengaja memegang ayat pertama atau kedua untuk suatu kepentingan, dan ini akan menhancurkan tujuan yang sebenarnya dari diturunkannya hukum pengharaman tersebut (hikmah at-tasyri’).

Contoh di atas sebenarnya hanya untuk memberikan gambaran bahwa Selain pertimbangan umum al-lafadz lewat proses analogi, Asbab an-nuzul juga menunjukkan pada pertimbangan khusus as-sabab, karena tidak semua teks dapat dihadapi dengan pertimbangan “keumuman teks dan mengabaikan kekhususan sebab”. Dan bila ini dipaksakan, maka akan berakibat fatal pada pengakuan umum tentang hikmah at-tasyri’.

Di sisi inilah, korelasi yang sebenarnya antara fenomena Naskh dan konsep Asbab an-nuzul, sebagi perwujudan dari dialektika antara teks dan realita. Dimana ayat-ayat yang telah di-mansukh hukumnya tidak dapat lagi dipakai keumuman ungkapannya untuk kemudian digeneralisasikan dengan realita yang serupa dengannya.

C. Urgensi Memahami sebab an-Nuzul

Mengetahui asbab an-nuzul menurut Manna Khalil al-Qattan adalah cara terbaik untuk memahami makna al qur’an dan menyungkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab-sebab turunnya.[5]

Hal ini sejalan dengan pendapatnya Fazlur Rahman, bahwa Al-Qur’an sebagai puncak dari sebuah gunung es. Sembilan per sepuluh dari bagiannya terendam di bawah perairan sejarah dan hanya sepersepuluhnya yang dapat dilihat. Ia lebih lanjut menegaskan bahwa sebagian besar ayat Al-Qur’an sebenarnya mensyaratkan perlunya pemahaman terhadap situasi-situasi historis khusus, yang memperoleh solusi, komentar dan tanggapan dari Al-Qur’an.

Dari pendapat para pakar di atas kita dapat mengetahui bahwa Memahami Asbabu an-Nuzul sangatlah penting karena dapat menyingkap hubungan dialektika antara teks dengan realitas, dimana dalam konsep Asbabu an-Nuzul, turunnya teks dinilai sebagai “respon” atas realitas, baik dengan cara menguatkan ataupun menolak, dan menegaskan hubungan dialogis antara teks dengan realitas. Walaupun pada satu sisi, ada kalangan -– sebagaimana disinyalir Az-Zarqani dan As-Suyuthi — yang berpendapat bahwa mengetahui asbab an-nuzul merupakan hal yang sia-sia dalam memahami Al-Qur’an. Mereka beranggapan bahwa mencoba memahami Al-Qur’an dengan meletakkannya dalam konteks historis itu sama dengan membatasi pesan-pesannya pada ruang dan waktu tertentu. Namun, keberatan seperti ini tidaklah berdasar karena tidak mungkin menguniversalkan pesan AL-Qur’an di luar masa dan tempat pewahyuan, kecuali melalui pemahaman yang semestinya terhadap makna Al-Qur’an dalam konteks kesejarahannya.

D. Al-Qur’an Diturunkan secara Bertahap

Terkait dengan peristiwa turunnya al-Qur’an yang tidak sekaligus (berangsur-angsur) dan mempertimbangkan realitas dan sebab itu maka menimbulkan keusilan dikalangan pembantahnya yaitu kaum Musyriq karena mereka mempunyai konsep mengenai kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan secara lengkap dan terbukukan sebagaimana papan (lauh) milik Musa as.

Keusilan dimaksud tercermin dalam Pertanyaannnya yaitu; mengapa harus mempertimbangkan realitas dan sebab dalam menurunkan secara bertahap, padahal Allah Swt mengetahui seluruh realitas, global dan detilnya, sebelum realitas itu terjadi? Bila kemudian dinilai bahwa turun wahyu terikat dengan sebab, maka sama dengan menyatakan perbuatan Allah Swt terikat dengan ruang dan waktu. Kesimpulan ini mengandung unsur penghinaan terhadap “kekuasaan Tuhan” yang mutlak. padahal bukankah dalam jangkauan kekuasaan Allah Swt yang mutlak untuk menurunkan al-Qur’an sekaligus, bukankah Ia mampu untuk menjadikan Nabi Saw menghafal sekaligus?

Dalam Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa yang menjadi alasan utama adalah pertimbangan kondisi Nabi Saw sebagai “penerima pertama” wahyu sebagai proses komunikasi yang berat (inna sanulqi ‘alaika qaulan tsaqila). Sehingga membutuhkan proses yang yang bertahap agar mudah baginya untuk menghafal. Ini berbeda dengan Nabi-Nabi lainnya, sebab mereka dapat menulis dan membaca sehingga dimungkinkan bagi mereka untuk menghafalkan semuanya apabila diturunkan sekaligus.

Alasan lain juga kenapa al Qur’an tidak diturunkan sekaligus yaitu untuk menguatkan hati Rasul Saw. Sebab, bila wahyu turun dalam setiap peristiwa, ini akan lebih memantapkan hati dan lebih memberikan perhatian terhadap Rasul Saw.[6]

 


BAB III

PENUTUP

E. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1.        Definisi Qur’an secara bahasa adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Sedangkan secara termenologi asbab an-nuzul adalah peristiwa yang kerananya Qur’an diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.

2.        Korelasi yang sebenarnya antara fenomena Naskh dan konsep Asbab an-nuzul yaitu  sebagai perwujudan dari dialektika antara teks dan realita.

3.        Pentingnya memahami asbab an-nuzul adalah untuk menyingkap hubungan dialektika antara teks dengan realitas, dimana dalam konsep Asbabu an-Nuzul, turunnya teks dinilai sebagai “respon” atas realitas, baik dengan cara menguatkan ataupun menolak, dan menegaskan hubungan dialogis antara teks dengan realitas.

4.        Al-qur’an diturunkan secara berangsur-angsur karena Allah mempertimbangkan kondisi nabi yang tidak bisa membaca dan menulis sehingga dibutuhkan tahapan-tahapan dalam proses turunnya wahyu. Selain alasan itu juga untuk menguatkan hati nabi.

F. Saran-saran

Untuk memahami ayat-ayat dalam al Qur’an maka suatu keharusan bagi kita untuk memahami sebab-sebab yang menjadi perantara turunnya ayat tersebut. Karena bagaimanapun juga turunnya sebagian besar ayat dalam Qur’an – sebagaimana disinggung pada bagian pendahuluan – merupakan respon atas realitas yang terjadi mada masa itu. Seperti ayat al-qur’an tentang keharaman Khamr (misalnya), tidak menutup kemungkinan ada pihak yang dengan sengaja memegang ayat pertama atau kedua untuk suatu kepentingan karena mereka tidak tahu fenomina teks kaitannya dengan konteks dan ini akan menhancurkan tujuan yang sebenarnya dari diturunkannya hukum pengharaman tersebut.


[1] Ibnu Subhi. 2005. Qur’an dan Hadits Untuk kelas XII Madrasah Aliyah. Hal 123

[2] http:/www.detik.com/badawisdh/tnpm.html,diakses pada 04 November    2009, pukul 14.36 WIB

[3] Lihat al Qattan. Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Hal. 106

[4] Lihat al-Ithqan, juz: I, hlm. 27).

[5] Lihat Manna Khalil Al-Qattan. Studi Ilmu-ilmu  al-Qur’an. Hal. 112

[6] Prof. Dr. MM. Al A’zami. The History of The Qur’anic Text. Hal. 87

About these ads
Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: